Eksistensi Sang Maha Sempurna dalam karya milik Ciptaan-Nya yang Paling Sempurna.
Pukul 12 lebih 30, bus biru yang biasa mengangkut penumpang menuju pusat kota itu berhenti di persimpangan sebelum lampu merah. Pintunya terbuka otomatis oleh sang pengemudi, memuntahkan beberapa manusia yang segera berjalan menjauh sampai akhirnya tidak terlihat dari pandangan.
Salah satu manusia yang turun dari sana dan berjalan lamban sembari memperhatikan gedung-gedung lawas yang tetap berdiri tegak, adalah aku. Berniat untuk menuntaskan kewajiban, tanpa rencana apapun. Cukup abu-abu, tapi tidak terlalu kosong. Aku tidak betah diam, karena khawatir akan melewatkan sesuatu dan pulang tanpa membawa apapun yang berarti.
Sembari menghalau silaunya matahari, aku beranjak dari persimpangan menuju jalan Braga. Tempat yang rasanya hangat, namun asing. Saat berjalan sendiri, seorang pria paruh baya berbaju kumal menyodorkan satu pack tisu seraya menyapaku dengan senyum hangatnya.
Pria paruh baya itu berkata, "Selamat siang, Neng. Bapak jualan tisu, barangkali Neng ada butuh, boleh beli di Bapak. 10 ribuan aja." Riang sekali nada suaranya. Seolah menghiraukan peluh di badan dan debu di permukaan sepatu.
Sayangnya, aku tidak memutuskan untuk membelinya. "Maaf Bapak, mungkin lain kali ya." Ucapku dengan sebuah perasaan getir.
Dia tersenyum lebar dan mengangguk. "Nggak apa-apa, Neng. Terimakasih ya! Selamat siang!"
Aku pikir, seni ada dimanapun kaki menjejak. Kenyataannya, memang tidak pernah lepas dari kehidupan manusia selama eksistensinya masih hadir di atas tanah. Seni yang diperlihatkan untuk aku dari hal sekecil apapun, oleh Sang Maha Pemilik. Seni dalam sebuah perniagaan dan menjaga hubungan baik dengan sesama ciptaan.
Berjalan tak tentu arah, sampai kemudian tatapan mataku bertemu dengan sebuah objek dalam kanvas yang dilukis dari arang pensil. Pelukisnya duduk di dekat sebuah pohon, tatapannya terpaku ke arah hamparan putih yang sedang dia beri warna. Dalam hati, aku berdecak kagum dan tanpa sadar enggan beranjak dari sana. Pelukis berkostum emas itu menyadari ketertarikanku, 4 menit kemudian. Dia tersenyum. "Mau saya lukis?"
Aku sontak menggeleng. "Hehe, nggak, Pak. Aku mau liat aja."
"Ya nggak apa-apa. Cuma butuh waktu sebentar kok." Dia segera membuka lembaran baru.
Akhirnya aku mengiyakan dengan perasaan sungkan, lalu duduk di sebelahnya sembari menenangkan diri bahwa aku pasti tidak akan kehabisan waktu untuk menemukan sebuah arah. Aku pasti akan berhasil membawa pulang sesuatu, yang membuat kedatanganku ke tempat ini tidak berakhir sia-sia, sekalipun tanpa berbekal sebuah naskah.
Ujung pensilnya yang telat diraut, menyentuh permukaan kertas polos itu. Meninggalkan jejak berwarna hitam pudar yang lama kelamaan berubah menjadi lukisan dua buah mata. Aku berdecak kagum, lagi. Dia bisa melukiskan aku dengan detail yang begitu serupa.
"Seni itu kalau kita berkenan untuk berbagi. Berkarya tanpa hati, cuma berakhir usang lalu perlahan mati. Orang mana mau, bertahan untuk mengenang saat usia sudah senja. Karya itu harusnya tidak hilang, meskipun manusia yang menciptakannya kembali berpulang." Dia tetap berusaha mengusir hening, meskipun intuisinya sedang mengarah pada lukisan yang menambah rona lain di atas kertas kuning.
Aku tersenyum menanggapi perkataannya. Sang Maha Bijaksana, nampaknya baru memberikanku sentuhan seni dalam intuisi yang masih sunyi. Apa yang sedang aku hadapi, baik manusianya atau karya seninya, adalah sesuatu yang aku cari-cari. Seni melukiskan sesuatu dalam bentuk tulisan, setelah menerapkan seni dalam mendengarkan. Ternyata memang betulan, manusia adalah makhluk yang tidak bisa sendiri. Dia harus bergantung pada Sang Maha Agung, untuk semua realisasi pada semua hal yang dia tanggung.
Setelahnya, aku dipertemukan dengan segudang inspirasi dari para manusia yang tetap berkarya seni di usia dan raganya yang tidak segar lagi. Indah, yang definisinya tidak cukup saat dipandang, lalu terbuang begitu saja dari memori.
Aku menginginkan itu. Terkenang indah, meski raga sudah kembali menyatu dengan tanah. Seperti karya milik manusia yang hidup ribuan tahun lalu, terkenang abadi dan menjadi literasi bagi manusia lintas generasi.
Pertanyaannya adalah, sudah cukupkah menekan segala perasaan rendah diri untuk berani memulai, padahal seluruh raga adalah titipan dari Sang Maha Pemberi? Menurutku, seni adalah ketika intuisi mau terhubung pada Dia yang abadi. Untuk sebuah akhir yang baik dan terkenang dalam ukiran yang terbaik, kita selalu butuh seni untuk memandang setiap perjalanan menuju tempat pulang terkesan indah saat dilalui.
https://www.instagram.com/reel/C8gWow5hhCc/?igsh=cDAxZjdzNDZjaWd4
16:57, 24 Juni 2024.

Komentar
Posting Komentar