Langsung ke konten utama

Tertarik Pada si Melankolis part 4







Putra bukan orang yang suka diperintah. Dia lebih suka mengatur dan selalu sigap mengambil keputusan untuk dirinya sendiri ataupun demi kebaikan orang banyak. Karena ketegasan dan kepribadiannya yang teguh, membuatnya dipercaya sebagai sosok pemimpin yang berkarisma. Satu hal yang disadari oleh Putri bahwa cowok ganteng ini ternyata lumayan kaku ketika sedang menjalankan peran sebagai ketua di organisasinya.

"Lo kok bisa humor juga ya kalo lagi sama gue?" Tanya Putri sembari mengupas kulit jeruk. Setelah kuliah berakhir, Putra mengajaknya jajan buah di pasar sore. Kalo Putra suka buah semangka, tapi karena Putri suka jeruk jadinya Putra juga ikut-ikutan jajan jeruk. Katanya biar samaan.

"Bisa dong, cowok ganteng bakal kalah sama cowok humor. Tapi cowok humor bakal kalah sama cowok kaya." Putra menyahut sambil menyuapkan jeruk. 

"Oh, berarti lo nanti kalah dong kalo ada cowok kaya deketin gue?" Putri nyengir.

Putra menelan jeruk itu kemudian membalas, "ya gak bakalan. Gue kan cowok ganteng, humor, udah gitu kaya lagi hehe." 

"Haha bisa aja." Beneran deh, suara ketawa Putra ganteng banget. Giginya juga rapi, enak dilihat walaupun lagi ketawa ngakak.

"Mau mancing ikan-ikanan gak?" Tanya Putra, menunjuk sebuah kolam karet yang baru saja buka.

"Gamau, kaya bocah." 

"Ya gak apa-apa, yang penting bayar." Putra tersenyum lebar membujuk cewek cantik ini. Senyum yang mampu meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya. "Ish yaudah ayo." Akhirnya Putri pasrah saja ketika tangannya ditarik Putra ke sana. Kolam bohongan itu masih kosong karena baru buka, membuat Putra senyum kegirangan karena menjadi pelanggan pertama. 

"Berapaan bang?" 

Abang itu menatap mereka dengan heran. "10 ribu 10 menit." Tapi meski begitu dia tetap menjawab. 

Putra pun mengeluarkan uang sepuluh ribuan dan mulai berjongkok untuk main, tak lupa menarik tangan Putri untuk ikut jongkok juga. "Ngadu yok! Ntar siapa yang kalah harus nurutin kemauan yang menang." Jiwa kompetitifnya mulai keluar, bahkan dengan cewek yang sedang dia ajak pdkt.

"Siapa takut?" Sahut Putri, mengundang senyum geli di wajah cowok itu. Lucu juga lihat muka Putri, dia berharap bisa menang supaya cewek ini mau menuruti kemauannya. 

"Siap ya? Satu..dua"

"TIGA!" Putri menyahut dan memancing duluan, sudah dapat 1 lalu berseru senang.

"LICIK HEY LICIK!" Putra yang tak mau kalah pun berusaha menggagalkan usaha si calon pacar untuk mendapatkan ikan dengan memukul-mukul pancingan mereka. 

"Ih apaan sih gak boleh gitu!" Kesal Putri dan balas memukul sehingga pecikan air mengenai baju putih Putra. Sayangnya pancingan Putri harus mental jauh dari tangannya. "Putra!" 

"Haha suruh siapa mukul mukul." Ia tertawa melihat Putri berlari terseok-seok mengambil pancingannya. Kesempatan ini berhasil membuat ia mendapatkan 3 ikan sekaligus. Putra bersorak senang sedangkan Putri berseru kesal. 

"Wle wle! Gue dapet 3, udah kalah mah kalah aja!" Serunya.

"Ah gak kaci lo! Tau ah udahan." Kesal Putri lalu pergi begitu saja. Tingkahnya menuai tawa tak hanya dari Putra tapi dari si Abang-abang juga. 

"Marah tuh pacarnya." Ujar si abang. 

Putra terkekeh geli. "Udahan ah bang, mau ngejar calon dulu."

"Oh belum pacaran?"

"Belum, baru mau ntar di tukang jepitan." Cengirnya. Si abang pun terkekeh dan menganggukan kepala ketika Putra pamit. 

Tak susah mencari Putri karena cewek itu selalu mampu menarik perhatiannya bahkan ketika berada di tengah kerumunan. Wajah kesalnya yang sedang merengut itu terlihat menggemaskan, duduk di ayunan sambil bersedekap dada. 

"Maapin ya." Ujar Putra sambil tersenyum manis. 

Putri mendongak lalu mengedikkan bahu, tak mau luluh melihat senyum manis dari cowok yang mengaku ganteng, humoris dan kaya ini. Bukan Putra namanya kalau habis akal, ia berjalan ke belakang dan mendorong ayunan itu perlahan. "Iya deh gue salah udah licik, Putri mau apa?"

"Gak ah." Sahut Putri acuh.

"Mau beli es mambo gak? Apa lolipop? Apa mau jasuke? Apa seblak?"

"Gak ah udah sana sana!" Kesalnya. Tapi sebenarnya dia bukan bilang gitu, dia sebenarnya pengen bilang maunya dibeliin es krim, cuma tengsin. Masa lagi marah langsung luluh gara-gara dibeliin makanan? Putra harus berjuang lagi dong. Gimanapun caranya Putra harus tau kalo Putri kepengen es krim, pokoknya harus ngerti deh. Cewek kan selalu benar. 

Tak ada sahutan dari Putra, bahkan ayunan pun tak lagi terasa di dorong dari belakang. Putri mau nengok tapi ragu, mau manggil juga gak mau. Apa Putra marah ya? Ah masa sih? Tuh cowok suka pundung apa? Hadeh kenapa jadi Putra yang ngambek deh?

"Tra?" Lama bergelut dengan pikirannya, akhirnya ia menyerah. Mau tak mau harus mau memanggil cowok itu, takutnya pulang duluan terus dia ditinggal sendirian deh di pasar sore. Kan gak asik. 

Benar saja, tak ada jawaban dari sana. Putri pun menoleh ke belakang dan mendengus ketika menyadari bahwa Putra memang meninggalkannya sendirian. Ia celingak-celinguk mencari keberadaan Putra di sekitaran. Banyak yang pakai kaos putih polos, tapi dia langsung tahu kalau orang itu bukan Putra. Entah Putra pakai pelet apa sehingga Putri akan langsung tahu bagaimana bentukan Putra untuk mengenalinya di tengah kerumunan. 

"Ih nyebelin banget sih! Lain kali gue gak akan mau diajak kemana-mana lagi! Bomat bomat!" Sungutnya. 

"Ah masa?" Suara berat itu menyahut, membuat Putri menoleh dan mendapati Putra berdiri 2 langkah darinya sembari membawa 2 es krim berukuran besar dan 2 bungkus jasuke, sambil nyengir pula. Gimana hati tidak akan luluh coba?

"Ish!" Putri melengos padahal hatinya senang. Kok Putra bisa cepet banget ya dapetin es krim sama jasukenya? Emang gak ngantri apa?

Putra tau kalau si calon sudah luluh melihat es krim yang dia pegang. Tak perlu dibujuk susah payah pun Putri tak mungkin bisa mengabaikan es kim yang kelihatan memanggil-manggil jiwa raga ini untuk segera dicicipi. "Nih es krim, maapin ya." Ujar Putra dengan suara yang dibuat semanis mungkin.

Putri hanya mengedikkan bahu dan berpura-pura asyik main ayunan. Hatinya sedang diuji begitu berat untuk mengabaikan es krim dingin dan jasuke hangat itu.

 "Yakin nih gamau?" Putra tersenyum geli. Putri masih kuat mengabaikannya. 

"Yaudah kalo gamau aku kasih ke orang aja." Ujarnya, disusul dengan langkah pelan menghampiri seorang cewek berambut panjang untuk memberikan es krim itu padanya. Putri menatap cowok itu tak percaya. Dia kan tidak bilang gamau!

"Mbak mbak" Putra nampaknya tidak main-main dengan ucapannya. Bahkan cewek berambut panjang itu sudah menoleh setelah pundaknya ditepuk oleh Putra.

"Iya mas kenapa?" Sahutnya ramah. 

"Ih nyebelin banget sih!" Putri mengomel kemudian bangkit dari ayunan dan menghampiri mereka. 

Hampir saja Putra menawarkan semua makanan yang ada di tangannya itu, beruntung Putri masih sempat mencegah kelakuannya. "Aduh maaf mbak, dia salah orang, permisi." Ujarnya kemudian menarik tangan Putra supaya pergi dari sana. Selama tangannya ditarik pun Putra malah cengengesan tanpa merasa bersalah. Apa dia bilang kan, Putri tak mungkin bisa mengabaikan es krim, ada jasuke pula. Apalagi yang beliinnya cowok ganteng, humoris, udah gitu kaya raya lagi. 

Mereka kembali ke ayunan dan Putri mendelik sebal ke arahnya. Putra mengulum senyum. "Putri cantik." 

"Iya kan cewek." Sahutnya acuh dan kembali duduk di ayunan, masih tengsin untuk meminta es krim dari tangan Putra. 

"Tapi cantiknya Putri mah bikin aku suka."

"Ih apa deh uka aku, geli nih geli dengernya!" Cewek itu mendelik.

Putra cekikikan. "Yee beneran. Coba liat sini."

"Apaan?"

"Sini sini." 

Putri pun menoleh dengan malas ke arahnya. Tak ia sangka ternyata cowok itu hendak usil mengenai es krim ke hidungnya. Putra malah cekikikan saat Putri berseru kesal. Ternyata si ketua BEM yang terkenal tegas dan kaku ini usil juga waktu pdkt. 

"Ish!" Putri pun mengelap hidungnya dengan muka tertekuk. 

Tawa Putra berganti menjadi sebuah senyum geli, kemudian menyodorkan es krim itu pada si calon. "Ini es krimnya tuan putri. Minta maap ya udah licik, gak lagi lagi deh." Ujarnya manis.

Putri berdecih namun tangannya tetap mengambil es krim itu, dengan muka yang masih tertekuk masam ia memakannya pelan-pelan. Putra tersenyum geli dan duduk di ayunan sebelah, memperhatikan Putri dari samping dan masih memegang jasuke dan es krim satunya.

Putri melirik sedikit. "Apa liat-liat?" 

Putra pun nyengir. "Manis banget mukanya." 

Putri mendengus. "Kenapa gak dimakan es krimnya? Ntar meleleh tau rasa." 

"Kan es krimnya buat Putri semua." 

Sontak ucapannya itu membuat Putri menoleh dengan senang hati. "Serius?!" Putra pun mengangguk tak kalah senang karena berhasil merebut seluruh atensi si calon. "Iya, masa boong?" ujarnya. 

Putri pun tersenyum, sedikit menunduk. "Makasih." Katanya malu-malu.

"Aduuh gemecin banet cii! Anak capa inii?" Ujarnya dengan suara dibuat selucu mungkin. Tak mungkin Putri tak tertawa mendengar itu. Bisa-bisanya si ketua BEM yang tegas sekarang ngomong kaya anak-anak demi bikin dia gak marah lagi.

"Putri cepetan ya mamam es krimnya, bentar lagi mau ujan." 

Putri mengangguk. "Iyaa."

Putra terkekeh pelan."Nikah aja dah ayo!"

"Heh!" 

Aduh dasar Putra, ada-ada aja. Bisa-bisanya ngajak nikah kaya ngajak main. 

                                 








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gwaenchana

Inner Child. Namanya juga manusia, bukan hanya dilahirkan sebagai pemilik raga yang paling sempurna namun juga memiliki jiwa yang akan bertumbuh. Bukan hal yang mesti disalahkan, kalau kamu terlahir sebagai orang yang tidak mampu melakukan semuanya sendirian. Karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial.  Tapi pernahkah kamu merasa ada sesuatu yang belum selesai sembuh di masa kecil? Mungkin ada satu sifat burukmu yang terbentuk karena ada sesuatu yang belum terselesaikan dalam dirimu sendiri. Bisa jadi karena trauma dan kamu selalu bersembunyi untuk bertahan. Atau karena luka masa lalu dan kamu belum sanggup memaafkannya. Sadar tidak sadar, luka atau trauma itu akan menjadi sosok inner child yang bersembunyi dalam diri kamu, di bawah alam sadar yang memengaruhi kamu ketika merespon sebuah masalah, membuat keputusan atau bahkan ketika berhadapan dengan orang lain.  Namun, semakin kamu membenci luka itu, semakin kamu bersembunyi dari trauma itu, jiwamu semakin tidak berk...

My social media

  Instagram : @Malikamay_ Spotify : CheonsaWorld https://open.spotify.com/show/1oE6ICbDMXCSAwpSNcKtca Podcast aku di stitcher : https://partners.stitcher.com/show/688568/stats Youtube : Malikamay  https://youtube.com/channel/UCmRYokSVy4Uy5LTIBm5ZTDQ Blog :  Wattpad : @akucheonsaa Dan kamu bisa cerita ke aku di sini, terserah cerita apa aja.  https://forms.gle/EtDCH6ZvCXEZifiu9  atau kirim ke email ya Email : malikazahiraputri@gmail.com

Tertarik Pada si Melankolis part 5

Putri's POV Aku udah lumayan lama deket sama Putra. Beberapa minggu lalu dia ngajak aku ke hubungan yang lebih serius, jadian maksudnya. 2 bulan mungkin cukup lama buat pdkt, banyak sisi menyenangkan yang Putra tunjukkin ke aku. Humoris iya, open minded iya, dewasa iya, enak diajak ngobrol iya, seru iya, bisa diandalkan iya, udah gitu mandiri juga iya. Seolah, Putra adalah seseorang yang aku cari-cari selama ini. Gimana cara dia ngetreat aku, jelas beda sama orang-orang sebelumnya. Yaa bisa dibilang cara pdkt Putra lumayan unik. Aku jelas suka hal yang baru, jujur aja 2 bulan ini dia berhasil bikin aku nyaman dengan semua aspek dalam dirinya. Termasuk cara dia menghadapi emosi sendiri. Dia pernah bilang, "aku pengen serius sama hubungan ini, kamu sepadan sama aku Pu. Ternyata kamu orangnya dewasa, padahal muka kamu baby face banget. Kamu itu orang yang aku cari, aku berharap punya istri yang bisa momong, yang sikapnya dewasa, yang enak diajak ngobrol, yang kuat hatinya, yang g...