Langsung ke konten utama

This is me, then why?




"Ternyata kamu orangnya gini ya, aku kira kamu kalem padahal pecicilan. Nggak banget."

Pernah dengar orang lain bilang gitu ketika kita aslinya ternyata nggak seperti apa yang mereka bayangkan? Marah sih enggak tapi sering kepikiran gitu, emangnya kita dalam bayangan orang lain kaya apa? Emang Kenapa dengan aku yang kaya gini? This is me, tapi kamu nggak terima. Dari raut wajahnya aja kaya kecewa. Emangnya kita sesempurna apa di pikiran mereka? Kenyataannya kita kni sama aja loh kaya yang lain, ada kurangnya, ada sisi menyebalkannya, nggak selalu baik.

"Kok dia bisa sih suka sama kamu, padahal kan kamu bla bla bla.."

Terus kenapa ya? Apa suka sama orang itu bisa diatur ya? Harus sama orang yang begini, begitu, kan nggak bisa. Kadang orang yang nggak tau apa-apa bisa seenaknya menyimpulkan, bahkan memberi penilaian seolah mereka adalah orang yang paling kenal kita luar dalam. Lucu sih, berlagak paling tau padahal nggak tau apa-apa. 

Aku punya temen, udah lumayan lama juga nggak ketemu. Suatu hari aku ketemu lagi sama dia, ucapan pertama kali yang dia lontarkan itu kira-kira begini. "Kamu kok beda ya? Nggak sama kaya dulu. Sekarang juga gendutan lagi." Katanya. Duh, kurang enak di denger ya.

Menurut aku, setiap orang pasti akan berubah seiring berjalannya waktu. Nggak mungkin kan masih sama persis seperti 10 tahun lalu, yang tadinya nggak ngerti cara naik sepeda pada akhirnya bisa ngerti. Yang tadinya apa-apa nggak bisa dilakuin sendiri akhirnya bisa mandiri. Yang tadinya nggak ngerti apapun, setelah belajar akhirnya berpengetahuan luas.

Keadaan pun nggak akan sama persis, pasti berubah sewaktu-waktu. Terus, apa kita nggak bisa melakukan perubahan untuk menyesuaikan diri sama keadaan? Emangnya setiap perubahan itu negatif ya? Kan nggak. 

Kadang orang yang bilang gitu ke kita sebenernya mereka nggak tahu kalau perubahan besar itu mungkin berdampak baik buat kita. Yang mereka tau ya cuma apa yang mereka lihat, kalo kita udah berubah, nggak sama lagi kaya dulu. Gak mau peduli apa yang udah kita hadapi sampai bisa berubah. 

Dan ada lagi orang yang bilang gini, "dulu mah kamu baik terus SMP kamu masih mending, tapi waktu udah SMA kok kamu gini?" Katanya. Aku paling sebel sama perkataan kaya gitu, kalo boleh jujur. Dia aja nggak memperjelas berubah kaya gini nya dalam hal apa. Seolah semua aspek dalam diri aku digambarkan oleh kata 'gini'. Ya apanya yang gini? Sikapnya? Wajahnya? Hobinya? 

Aku tetaplah diri aku sampai kapanpun. Ada kalanya aku berubah karena keadaan, karena nggak pantas rasanya kalau aku nggak bisa mengambil pelajaran dari setiap hal yang datang dalam kehidupan aku. Tuntutan lingkungan yang memaksa aku untuk berubah. Meski begitu, setiap orang pasti punya sifat bawaan. Dimana si pemilik merasa nyaman dengan sifat itu, sekeras apapun lingkungan menuntutnya untuk berubah.

Jadi kamu nggak bisa asal menilai seseorang cuma dari apa yang kamu liat. Seringkali kita nggak nyaman untuk menunjukkan diri kita yang sebenarnya pada sebagian orang. Ada kalanya kita bersikap baik namun terasa kaku, itu karena kita nggak nyaman membiarkan mereka tau persis dalamnya kita seperti apa. Hanya segelintir orang yang kita biarkan untuk melihat diri kita apa adanya, tanpa harus berpura-pura lagi. Karena kita lebih nyaman seperti itu. 

Kita bisa jadi pendiam dihadapan beberapa orang tapi kita juga bisa jadi periang dihadapan yang lain, itu bukan karena munafik ya kalo menurut aku. Itu berarti kamu cerdas untuk menempatkan diri kamu pada keadaan berbeda dan di hadapan orang yang berbeda. Kamu nggak salah kok, karena mengetahui bagaimana kita harus bersikap di hadapan orang-orang yang berbeda itu penting. Ada kalanya kamu harus bersikap baik dan terkesan sedikit kaku agar orang yang sedang kamu hadapi ini nyaman. Tapi ketika kamu memang sudah nyaman dengan mereka, tanpa dipaksa pun kamu pasti bisa menjadi diri sendiri dihadapan mereka. 

Intinya sih ini tentang orang yang sedang kamu hadapi, apa kamu nyaman sama mereka atau nggak. Bisa aja kita berubah karena nggak nyaman sama mereka.

Terakhir, kamu itu nggak hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Nggak akan selesai, karena mereka nggak akan puas. Menuntut seperti ini, seperti itu, padahal kamu bukan boneka yang di desain untuk selalu menyenangkan setiap orang. Biarin aja kalau sekali-kali kamu nggak bisa menghibur orang lain, ada waktunya, bukan setiap waktu harus begitu. Capek harus bersikap seperti apa yang orang lain mau. Biarin aja kalo kita ternyata nggak sesuai seperti apa yang mereka harapkan, emangnya kenapa? This is me, don't be shy to admit that we are not perfect humans. Kamu beruntung kalau memiliki orang yang mau tetap sama kamu tanpa menuntut bahwa kamu harus menjadi apa yang mereka mau. Biarkan orang lain hidup dalam privasi dan versi mereka.

Kalaupun ada orang yang kecewa karena terlalu berekspektasi ke aku, ya I could care less, but not much. Hehe. It doesn't matter to me, kalau orang lain memutuskan pergi setelah melihat diri aku yang sebenarnya. So what? It means nothing to me. 













Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gwaenchana

Inner Child. Namanya juga manusia, bukan hanya dilahirkan sebagai pemilik raga yang paling sempurna namun juga memiliki jiwa yang akan bertumbuh. Bukan hal yang mesti disalahkan, kalau kamu terlahir sebagai orang yang tidak mampu melakukan semuanya sendirian. Karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial.  Tapi pernahkah kamu merasa ada sesuatu yang belum selesai sembuh di masa kecil? Mungkin ada satu sifat burukmu yang terbentuk karena ada sesuatu yang belum terselesaikan dalam dirimu sendiri. Bisa jadi karena trauma dan kamu selalu bersembunyi untuk bertahan. Atau karena luka masa lalu dan kamu belum sanggup memaafkannya. Sadar tidak sadar, luka atau trauma itu akan menjadi sosok inner child yang bersembunyi dalam diri kamu, di bawah alam sadar yang memengaruhi kamu ketika merespon sebuah masalah, membuat keputusan atau bahkan ketika berhadapan dengan orang lain.  Namun, semakin kamu membenci luka itu, semakin kamu bersembunyi dari trauma itu, jiwamu semakin tidak berk...

My social media

  Instagram : @Malikamay_ Spotify : CheonsaWorld https://open.spotify.com/show/1oE6ICbDMXCSAwpSNcKtca Podcast aku di stitcher : https://partners.stitcher.com/show/688568/stats Youtube : Malikamay  https://youtube.com/channel/UCmRYokSVy4Uy5LTIBm5ZTDQ Blog :  Wattpad : @akucheonsaa Dan kamu bisa cerita ke aku di sini, terserah cerita apa aja.  https://forms.gle/EtDCH6ZvCXEZifiu9  atau kirim ke email ya Email : malikazahiraputri@gmail.com

Tertarik Pada si Melankolis part 5

Putri's POV Aku udah lumayan lama deket sama Putra. Beberapa minggu lalu dia ngajak aku ke hubungan yang lebih serius, jadian maksudnya. 2 bulan mungkin cukup lama buat pdkt, banyak sisi menyenangkan yang Putra tunjukkin ke aku. Humoris iya, open minded iya, dewasa iya, enak diajak ngobrol iya, seru iya, bisa diandalkan iya, udah gitu mandiri juga iya. Seolah, Putra adalah seseorang yang aku cari-cari selama ini. Gimana cara dia ngetreat aku, jelas beda sama orang-orang sebelumnya. Yaa bisa dibilang cara pdkt Putra lumayan unik. Aku jelas suka hal yang baru, jujur aja 2 bulan ini dia berhasil bikin aku nyaman dengan semua aspek dalam dirinya. Termasuk cara dia menghadapi emosi sendiri. Dia pernah bilang, "aku pengen serius sama hubungan ini, kamu sepadan sama aku Pu. Ternyata kamu orangnya dewasa, padahal muka kamu baby face banget. Kamu itu orang yang aku cari, aku berharap punya istri yang bisa momong, yang sikapnya dewasa, yang enak diajak ngobrol, yang kuat hatinya, yang g...