"Cantik.” Putri menoleh begitu mendengar suara yang berhasil ia hafal akhir-akhir ini. Cewek itu tersenyum geli, nggak menyangka Putra memujinya terang-terangan. Mungkin lama kelamaan udah nggak akan aneh lagi, karena Putra tipikal orang yang senang mengungkapkan perasaannya. Love languange-nya disampaikan melalui perkataan manis.
Jangan salahkan Putri kalau baper sama Putra. Meskipun awalnya dia bersikap biasa aja, berpikir bahwa Putra hanyalah teman baru dan orang yang baik, tapi Putri tetaplah seorang perempuan. Hatinya pasti tersentuh ketika diperlakukan spesial oleh seseorang. Apalagi dia tipe orang yang mudah suka, tanpa melakukan banyak hal pun Putra pasti bisa mendapatkan hatinya dengan mudah.
"Putri mau pulang?” Tanya Putra sambil memiringkan kepalanya. Entah apa maksudnya, Putri jadi gemas sendiri. Untunglah dia bisa menahan diri buat nggak ngusap rambut tebal Putra yang jatuh tak beraturan sehingga menutupi matanya.
“Iya mau.” Putri dibuat terpana ketika Putra menyisir rambutnya ke belakang, membuat dahi mulus cowok itu terlihat jelas. Sontak membuat Putri menyentuh dahinya sendiri sambil bertanya-tanya dalam hati, apa dahinya semulus itu? Dan Putri hanya meringis karena sadar bahwa ternyata nggak, di dahinya terdapat bruntusan kecil yang cukup sulit dihilangkan. Cewek itu menemukan satu alasan kecil untuk merasa insecure.
"Kenapa kamu? Panas?” Tiba-tiba Putra menyentuh dahi Putri, seperti ingin mengecek suhu tubuhnya. Putri mana bisa menghindar, badannya saja langsung mematung. Karena kaget jadi tidak bisa melakukan apa-apa selain menatap Putra dengan mata membesar.
“Enggak panas ih apaan sih!” Jawab Putri dengan cepat dan pura-pura terlihat tegar, padahal hatinya mleyot. Cowok itu mengulum senyum, Putri sedang malu rupanya. Menggemaskan sekali, kalau bukan tempat umum pasti sudah dia cubit pipinya.
Tanpa sadar Putri menatap jemari Putra yang panjang dan mulus, kulitnya pun putih bersih tanpa cela. Apa Putra nggak suka panas panasan ya? Padahal Putra aktif berorganisasi, tiap ada event pasti cowok ini selalu ikut andil. Tanpa ditanya pun Putri sudah tahu kalau Putra pasti suka olahraga, tubuhnya aja bagus gitu. Dibalik kaus hitam polos itu pasti ada dada yang bidang. Belum lagi perut Putra, pasti ada Abs-nya. Soalnya kalo buncit nggak mungkin, orang Putra itu perawakannya kaya Oppa Oppa. Apalagi kalau cowok itu pakai masker dan topi, aduh berdamage sekali.
“Mau jajan dulu nggak sebelum pulang?” Putri mengerjap kaget setelah berpikir kesana kemari. “Hah?” Bagus sekali, pasti wajahnya seperti orang bodoh sekarang.
"Putri laper? Makan yok.” Putri pun berkedip-kedip lagi. “Serius ngajak aku makan?” Seolah tidak percaya dengan ajakan Putra barusan. Pasalnya baru kali ini lho, setelah sekian lama ada cowok yang mau mengajaknya makan berdua. Eh tunggu sebentar, tadi Putra ngajak siapa?
“Sama siapa?”
“Sama Putri aja, emang aku bawa rombongan?”
‘Idih, keren banget sekarang dia ngomongnya aku aku an.’ Putri bergumam ria dalam hati. Ia pun tersenyum geli, entah kenapa baper lagi cuma karena Putra bilang ‘sama putri aja’. Apa Putri mulai lebay ya?
“Yaudah hayu.” Dari sana, mungkin hubungan mereka sudah selangkah lebih maju. Duduk di motor sambil membonceng Putri adalah perpaduan yang sempurna untuk membuat cowok itu bahagia.
Sama halnya dengan Putra yang masih nggak menyangka, ternyata semudah ini. Ia kira akan sulit mendekati Putri, karena kelihatannya cewek itu adalah orang yang tertutup padahal sebaliknya. Nggak sulit mencari bahan perbincangan dengan Putri, selain pengetahuannya yang luas cewek itu pun mau melakukan hal yang sama, sehingga bukan hanya dia saja yang harus berpikir untuk memulai percakapan. Bahkan kelihatannya Putri nggak perlu repot repot berpikir keras, ada saja perkataan yang keluar dari mulutnya sehingga suasana di antara mereka nggak terasa sepi dan canggung.
Putri cepat beradaptasi dengan kehadiran Putra. Rasa-rasanya mereka seperti dua orang yang sudah lama saling mengenal, padahal pertemuan saja masih bisa dihitung dengan jari. Dalam tahap seawal ini, Putra sudah merasa nyaman. Seperti telah bertemu orang yang Putra cari selama ini. Diam-diam cowok itu melirik ke arah spion, tersenyum kecil menatap Putri yang sedang berusaha menyingkirkan rambut dari wajahnya. Salah siapa nggak diikat, kan jadi terbawa angin. Wajah Putri memang manis, nggak ngebosenin buat dilihat. Dia penasaran, apa wajah Putri masih tetap cantik ya saat bangun tidur? Sekarang pun Putri hanya memakai riasan tipis dan membuatnya terlihat cantik natural. Bahkan meski tidak memakai riasan pun pasti akan tetap cantik. Kalau begini kan Putra rela menatap wajah itu setiap hari.
“Apa liat-liat?” Bahkan suara itu tetap terdengar menggemaskan meskipun berlomba-lomba dengan angin.
Putra terkekeh dan menggelengkan kepalanya seperti anak kecil, “kan punya mata.”
“Yaudah matanya dipake liat jalan aja.”
“Iya yaudah kan tadi udah liat Putri.”
“Ih apa sih?” Cewek itu terkekeh. Mendengarnya pun Putra ikut tertawa. Satu lagi yang Putra akui hari ini, bahwa tawa Putri adalah hal sederhana yang sangat ia sukai.
…
"Putra, mau beli itu deh!" Ucap Putri sambil menunjuk gerobak cilok di pinggir jalan.
"Putri belum kenyang?" Tanya Putra, menengok sedikit meskipun wajah Putri nggak kelihat semua. Cewek itu memasang cengiran tanpa menjawab, orang-orang memang nggak tau kalau dia makannya banyak.
Putra pun menepikan motornya. Belum disuruh turun, Putri main nyelonong pergi dan berlari kecil menghampiri Abang cilok. Wajahnya sumringah sekali, Putra jadi heran melihatnya. "Cuma mau makan cilok aja mukanya seneng banget gitu, nggak susah ya bahagiain Putri hahaha." Gumamnya sembari menaruh helm di spion lalu menghampiri Putri yang tampak anteng mengobrol dengan si Abang cilok.
"Abang dari Korea bukan?" Satu pertanyaan terdengar oleh Putra. Lah dia kira memang sedang bertanya seputar percilokan. Putra menatap Putri dengan heran.
"Bukan neng, ini pake sambel nggak?" Giliran Abang cilok ini yang sekarang ditatapi Putra. Penampilannya memang nggak ada yang aneh, baju polos hitam dan celana panjang serta memakai masker dan topi. Kalau dipikir-pikir, Abang cilok ini terlalu kece buat jualan cilok. Apa jangan-jangan Putri beli ke sini karena tertarik pada si abangnya? Masa sih?
Putri mengangguk antusias tanpa mengalihkan pandangannya dari si Abang, menatapnya kagum bahkan lebih lebih daripada menatap Putra. "Pake, 5 sendok ya. Abang boleh buka maskernya nggak?" Putra langsung menoleh begitu mendengar pertanyaan nggak masuk akal itu. Memang beli cilok harus banget lihat muka penjual nya ya? Ada yang nggak beres.
Si Abang cilok itu terkekeh pelan. Putra mengernyit kaget karena mendengar Putri menjerit pelan, seperti orang yang geregetan. "Ih ketawanya gemoy ih!" Serunya. Putra memperhatikan Putri dari samping, bahkan cewek itu nggak pernah memuji suara ketawanya. Memang gemoy darimana? Perasaan suara ketawanya biasa aja, nggak ada bagus-bagusnya. Bagusan juga ketawa dia.
Putra tiba-tiba ketawa. "Haha!" Membuat Putri dan si Abang cilok langsung menoleh ke arahnya. Mereka bingung tentu saja, kenapa cowok itu tiba-tiba tertawa, mana suara tawanya kencang lagi. Ada apa ya?
Ditatapi seperti itu, Putra pun tersenyum songong pada si Abang penjual. Dia kira Putri juga kagum pada suara tawanya. Tapi 3 detik kemudian Putri mengalihkan tatapannya lagi pada si Abang. "Nggak bisa dibuka ya bang maskernya? Emang nggak pengap?"
Abang kece itu menggeleng pelan. "Covid neng, jadi nggak boleh buka masker."
"Sebentar aja, sebentar banget kok! Penasaran banget sama muka Abang, kalo pake masker muka Abang kaya Lee Jong-suk. Tau nggak bang?"
"Waduh mana saya tahu Lee Lee an. Saya mah namanya Baim."
"Ih namanya juga kiyowo. Suka deh! Mau beli lagi deh ciloknya 20 ribu bang!"
"Wah siap neng!"
"Tapi Abang harus buka masker, hehe."
"Iya deh boleh."
Putri menjerit tertahan melihat wajah Abang cilok itu. Ternyata memang ganteng. Putra saja melongo. Suka berjualan cilok tapi wajahnya mulus begitu. Bahkan berkeringat malah membuatnya semakin tampan. Putra jadi insecure, tapi kan Putra yang mendekati Putri duluan. Tidak bisa dibiarkan! Abang cilok itu dilarang menyukai Putri.
"IH GANTENG BANGET!" Putri kian terkagum-kagum menatapnya. Putra berdecak, bahkan cewek itu belum pernah memujinya ganteng. Padahal Putra yakin, gantengan Putra ketimbang si Abang itu. "Ekhem ekhem." Cowok itu berdeham tapi lihat nggak ada yang peduli. Putri sibuk menatap kagum, sedangkan si Abang itu sibuk menyendok cilok ke dalam plastik sembari tertawa.
"Put udah belum?"
"Ih belum! Liat tuh masih dibungkus."
"Lama banget."
"Yaudah sana tunggu di motor!"
Putra berkedip kaget. Kenapa jadi Putri yang galak? Dasar cewek! Nggak bisa emang lihat yang ganteng. Baru kali ini Putra cemburu sama Abang cilok dan Putri lah pelakunya. Awas saja.
"Ini neng jadi 30 ribu ya." Ucapnya ramah. Putra berdecih melihat senyum jelek itu. Bahkan giginya saja putih dan rapi, sedangkan Putra memiliki gigi yang bolong di barisan gigi geraham. Duh dia jadi sebal. Tanpa merasa bersalah dia merebut plastik cilok itu dan segera pergi ke motornya. Membuat Putri melongo karena nggak jadi modus megang tangan si Abang cilok itu.
"Ih dia apaan sih? Kok ngambek deh?"
"Pacarnya bukan neng?"
Putri langsung menoleh dengan wajah yang dibuat manis padahal tadi cemberut melihat tingkah Putra. "Oh bukan bang, itu mah tetangga, hehe." Si Abang cuma manggut manggut.
"Ini uangnya bang. Mau minta foto ih bang, boleh ya?" Belum sempat si Abang menjawab, Putri langsung berdiri di sampingnya dan mengarahkan kamera.
"Waduh si Eneng gercep banget."
"Bang senyum ya, satu dua tiga."
Melihat itu Putra berdecak kesal. Ternyata masih belum selesai drama Putri dengan Abang percilokan. Selesai beli cilok malah minta foto. Dasar Putri, mereka saja belum pernah foto bareng, padahal selalu banyak cewek yang mengantri cuma untuk berfoto dengannya. Putri aja yang nggak bersyukur. Dikasih Putra malah deketin Abang cilok.
TIN! TIN! Mereka berdua terkejut mendengarnya. Putra mendengus karena mereka malah tertawa bersama lalu foto lagi.
"Putri! Udahan fotonya ih!" Ucap Putra yang putus asa.
"Iya ih bawel." Lah dia dimarahin lagi. Akhirnya Putra cuma bisa cemberut di atas motor sambil memperhatikan mereka. Malang sekali nasibnya.
"Makasih yaa bang! Aku posting nanti di IG. Abang punya IG nggak? Follow aku ya!"
"Putri ih!" Seru Putra. Putri mendesis sambil melotot ke arahnya. "Ganggu aja!" Ucapnya. Putra menatap tak percaya.
"Ih asiik! Makasih yaa Abang, aku doain semoga dagangannya laku, semoga kita bisa ketemu lagi!"
"Aamiin, makasih neng udah beli banyak ya. Nanti kalo ketemu lagi sapa abang aja, namanya Putri kan?"
"Iya bang Baim. Ih seneng deh, nama aku disebut sama orang ganteng mah jadi beda. Kaya baguus banget."
"Si Eneng bisa aja. Itu tuh tetangganya udah bete berat di motor, samperin gih kasihan."
"Ish emang dia mah ya."
TIN!TIN!
"IYA IYA! Sebel deh, yaudah bang aku pamit dulu ya, dadaah Abang! Jangan buka masker kalo ada penjual lain bang, hehe takutnya suka."
"Siap neng, hati-hati ya!"
"Duh iya bang bakal hati-hati, dadaah!"
Putra berdecak lagi melihat mereka dadah-dadah ria seperti anak TK. Dengannya saja belum pernah dadah seperti itu. Menyesal ia lewat jalan ini.
"Ih seneng banget!"
"Udah dadahnya?"
Putri memasang cengiran. "Udah Putra, ganteng banget ih orang itu. Kalo dia debut di Korea pasti bakal terkenal. Kalo nggak jadi idol, pasti jadi aktor."
"Serah Putri."
"Nanti nama fandomnya apa ya?"
"Mau naik nggak?" Putra mulai hilang kesabaran. Kesal habisnya. "Ih mau. Putra jangan marah gitu dong." Ucap Putri sembari menepuk-nepuk kepalanya. Putra kan jadi baper.
"Iya makanya naik." Ucapnya melunak. Mana bisa marah kalau begini ceritanya.
"Iya, ututut ganteng deh." Untuk pertama kali Putri mencubit pipinya. Nggak jadi marah deh, jadinya senyum senyum sendiri sambil pakai helm biar nggak kelihatan. Kalau sudah gini kan jadi makin suka.
...

Komentar
Posting Komentar