Langsung ke konten utama

Tertarik Pada si Melankolis part 2





Biasanya kalo kamu udah tertarik sama seseorang, habis itu ngapain lagi? Ngelanjutin ke tahap cinta dalam diam atau berusaha mengungkapkan dan meraih dia terang-terangan?

Kalo kamu memilih yang kedua, berati kamu sama kaya Putra yang memilih buat mengungkapkan perasaannya ke Putri. Dari terakhir mereka ketemu di perumahan, cowok itu selalu aja kepikiran tentang Putri. Kaya, kesengsem. Pokonya dia melakukan apapun, Putri selalu kebawa dalam pikirannya. Dia penasaran, Putri sekarang lagi ngapain ya? Apa Putri lagi dekat sama seseorang? Kira-kira respon Putri bakal seperti apa kalau dia deketin? Acuh kah? Atau malah menyambut dengan hangat? Itu sih yang dia mau. 

Cuma, dia ragu sebelum mengungkapkan itu, apa ketertarikan ini cuma sesaat aja atau malah dia emang bener-bener suka dan mau mengenal lebih jauh. Sederhananya, kenapa bisa semudah itu tertarik sama Putri? Bahkan Putri ngga berbuat apapun untuk menarik perhatiannya, orang kenal aja nggak. Tapi kok bisa? Nah itu yang dia nggak tahu. Putra nggak nemu alasan kenapa ternyata Putri lah orangnya. Rasa itu tiba-tiba ada begitu aja, nggak disangka-sangka. 

Dia nggak pernah berniat mau suka sama seseorang, apalagi suka sama orang yang nggak dia kenal sebelumnya. Tapi kenyataannya malah berbanding terbalik. Rasa penasarannya nggak bisa dia sembunyikan. Mau gimanapun dirinya mengelak, hatinya tetap jujur kalau dia ingin mengenal Putri lebih jauh. Sebut aja penasaran. 

Pukul 8 malam perutnya keroncongan. Dia lupa belum makan dari pagi, terlalu sibuk ngerjain tugas yang nggak kelar kelar karena kebanyakan bengong mikirin Putri. Cowok itu pun melangkah keluar dari kamarnya, dia tahu pasti Ibunya sudah masak makan malam. Saat sedang menuruni tangga, tiba-tiba aja .. Tring! Notifikasi dari nomor nggak dikenal masuk ke laman chatnya. Dengan santainya dia buka sembari menguap lebar. 

"Siapa sih?" 

0857*******

Putra, ini Putri mau balikin payung.

"ANJAYANTO! Si itu dapet nomor aing darimana?!” Spontan cowok itu berteriak sambil mendekatkan ponselnya ke mata, seolah ingin memperjelas siapa nama yang tertera di sana. Ibunya yang sedang menyeruput kopi sembari menikmati keheningan pun terkejut mendengar suara anaknya yang menggelegar. Hampir aja mati keselek kopi panas yang terasa membakar lidah. Wanita berumur 50-an itu segera menoleh ke sumber suara dengan wajah tersulut emosi. Pengen rasanya ngeguyur Putra pake kopi panas, kalau nggak inget Putra ini anak yang dia besarkan sendiri.

"PUTRA! Kamu ngomong aing tadi!” Suara ibunya menyaut, sama-sama menggelegar.

Badan Putra langsung kaku, dia lupa kalau ada kanjeng Mami yang selalu mengontrol ucapan dan perilaku anaknya di rumah. Cowok itu pun cengengesan nggak jelas dan sedikit membungkukkan bahunya yang tegap. “Maaf Bu, itu sebenernya nggak sengaja hehe.” Ia berbohong dan buru-buru balik lagi ke kamar, nggak jadi ngambil makan malem. Rasanya karena dichat Putri, lapernya pun nggak jadi.

"PUTRA JANGAN LARI-LARI!” Ibunya mengomel lagi. Cowok itu pun merubah status langkahnya menjadi jalan santai, sembari cengar-cengir sendiri. Efek karena tertarik sama Putri, cowok itu merasa begitu riang gembira. Padahal biasanya meskipun sedang senang, dia bakal jaim sejaim jaimnya.

Dibukanya pintu kamar dengan brutal. Ingin cepat-cepat balesin Putri, tapi belum sempat ketutup dan menghasilkan bunyi gebrakan kencang, cowok itu berhasil menahan pintu dengan tangan panjangnya. Kalo aja telat 2 detik, sudah pasti kanjeng ratu kembali mengomel. Dia berjingkrak senang dan melemparkan diri ke atas Kasur, menggosok-gosok tangan sebelum membalas. “Putri ngechat ya Tuhanku!” Ujarnya lebay. Berdeham 3 kali sebelum membuka chat dari Putri. Dari situ dia merasa bersyukur punya payung. Seenggaknya, ada alasan buat mereka berdua untuk memulai komunikasi. Topik payung ini akan dia buat jadi seru. Nantikan saja keahliannya dalam mencari topik, Putri pasti tertarik untuk terus membalas.

Gapapa kali ini Putri yang chat duluan, nanti lagi Putra pastikan dia yang akan chat Putri duluan. Ya kodratnya perempuan kan dikejar, Putra pengennya ngejar. Putri mah jangan, udah nunggu aja. Eh! Tuh kan si Putra udah geer duluan kalo Putri mau dikejar. Dasar.

“Putra, ini Putri mau balikin payung.” Putra membaca pesan itu keras-keras kemudian berguling ke kiri dan menggigit bantal. Kok jadi malu sendiri? Kenapa bisa tiba-tiba senang gini ya? Padahal Putri cuma bilang mau balikin payung, bukan bilang ‘saranghaeyo Putra’. Untung di kamarnya nggak ada siapa-siapa. Bebas mau cengar cengir juga.

“Oh iya Putri, kita ketemuan aja gimana?” Ucap Putra sambal mengetik, cowok itu kemudian menggeleng. “Ah jangan gitu! Kaya keliatan ngebet banget gue. Nanti Putri gamau.” Dia pun mengetik ulang. “Gapapa Putri, nanti aja waktu kita ketemu di kampus.” Ia kembali membaca dan menimbang-nimbang untuk mengirim. “Kirim jangan? Alay ga sih aing? Apa spj gitu ya biar dikata cowok dingin? Eh tapi gila. Nanti si Putri malah nggak suka. Ah kirim aja dah! Udah bagus ini.” Gitu katanya.

Putra langsung menggigit jari sewaktu pesan sudah terkirim. Deg-degan menunggu tanda ceklis dua berubah jadi biru. 5 menit sudah terlewati, dengan detail menghitung perubahan waktu di layar paling atas ponselnya. Tapi kenapa kok Putri belum mau read ya? Padahal online. Di situ Putra jadi ketar-ketir. Nggak tahu aja kalo Putri juga di sebrang sana sengaja mantengin layar ponselnya sambil mengulur waktu buat membalas, biar jual mahal dikit gitu loh. Padahal nggak ada yang chat Putri, biar aja dilama-lamain, nanti kan disangka sibuk, haha. Setelah 5 menit yang terasa panjang itu, akhirnya Putri mengirim balasan.

Oh iya.

Gitu doang. Putra tiba-tiba cemberut. Kok cuma oh iya? Kenapa nggak ada kalimat lain gitu yang mengekor di belakang? Putri juga nggak kelihatan mengetik lagi. Kok singkat banget? Udah gitu doang? Cowok itu pun mematikan ponselnya dan merenung. 

TRING! Putra buru-buru membukanya. 

Makasih ya.

Cowok itu tersenyum senang. “Aih! Seneng aing! Gak apa-apa deh payungnya buat kamu aja. Jadi ntar kalo ujan, Putri bisa pake payung Putra hahaha!” Ujarnya, ribut sendiri.

Tunggu, kenapa si Putra jadi lebay? Dia pun membalas dengan cepat. 

Iya sama-sama.

Di seberang sana Putri merasa bingung mendapat balasan dari Putra, yang terlampau cepat untuk dua orang yang nggak saling mengenal. Cewek itu bingung mau balas apa. Akhirnya hanya membalas ‘iya’ dan menunggu. Apa cowok itu mau mencari topik baru, atau yaudah sampe situ aja. Paling saling save buat jadi penonton story. Kalo gitu, sih, Putri ogah. Mending jangan sekontak aja sekalian. Dia nggak mau geer lagi dan akhirnya jadi kepo sama semua hal tentang Putra. Daripada nanti kepincut, mending dari sekarang aja dia udahin. Biar nggak ada apapun yang tertinggal nantinya. Mending sedikit kecewa di awal kan? 

"Eh bentar, aku harus kecewa gara-gara apa lagian?" Putri berujar sembari menatap cermin. Belum apa-apa masa dia sudah berpikir banyak, tentang rasa yang dipendam Putra dibalik cepatnya cowok itu membalas pesan. "Ih apa sih? Dia ngebales cepet ya buat menghargai orang lain aja kali. Gaboleh mikir yang lain, arraseo?" 

Cewek itu pun memilih untuk membuka buku pelajaran, mau ngerjain tugas niatnya. Tapi, mendengar notifikasi dan itu berasal dari Putra, matanya beralih ke ponsel lagi.

Kamu suka berkebun ya?

Putri tiba-tiba tersenyum kecil. “Kok dia bisa tau sih?” Tanyanya pelan. Pikirannya langsung berkelana, mengira-ngira darimana cowok itu bisa tau padahal kan dia nggak cerita ke siapa-siapa tentang hobinya.

Apa Putra diem-diem suka merhatiin di depan rumah? Ah, masa iya? Tapi Putri penasaran, seketika itu juga langsung berlari ke jendela, menyibak sedikit gorden untuk mengintip. Takut kalau Putra emang sedang nungguin di luar, kali aja nganterin martabak. "Aih yang bener aja! Masa dia kurang kerjaan banget nungguin di luar malem-malem, bisa-bisanya ya. Terus apa coba nganter martabak? Emang kamu siapanya dia Put idih!” Ujarnya, malu sendiri karena nyatanya di depan rumah nggak ada siapa-siapa. Emang dasar otaknya aja yang suka mikir kemana-mana. Maaf saja, cewek satu ini emang tinggi sekali daya imajinasinya kawan.

Tring! Putra langsung memasang wajah senang saat mendapat balasan dari Putri. “Iya suka. Aduh iya Putri saya juga suka kamu haha!” Cowok itu berseru kemudian berguling ke kiri. Maklum, sedang kasmaran jadi begitu sikapnya. Yang penting di depan Putri harus stay cool.

Persetan waktu itu ketemu.

Di rumahnya Putri terbelalak melihat balasan Putra. Persetan? Itu seriusan Putra bilang gitu? Kok kaget? 

Tring! Putra segera menatap ponselnya dengan semangat. Tiba tiba saja ia melongo karena kebingungan. 

Persetan? 

"Hah? Persetan? Kenapa putri bilang gitu?" Ujarnya kemudian membuka laman chat mereka. Matanya seketika membelalak. "Mampus! Aduh ini keybor kenapa dah?! Aih bremsek emang! Duh gimana nih? Bego banget bego! Aish ntar putri nyangka gue- aih! Meresahkan ini keybor ngajak ribut ye lu!" Ia ribut sendiri menjambaki rambutnya. 

Tring! Tring! Tring! Tring! Seketika kamar Putri pun ramai oleh suara notifikasi dari Putra. Tidak tahu saja kalau di rumahnya, Putra kelabakan sendiri begitu menyadari ada typo di pesannya. "Ini cowok kenapa sih?" Ujarnya heran sendiri. 

Putri maaf Putri tadi itu kepo 

Duh typo maksudnya 

Maafin putra ya putri 

Putri jangan marah ya. Duh beneran itu typo 

"Hahaha, ada ada aja dia mah." Putri terkekeh geli. Lucu, pikirnya. 

Gapapa😂

Dan Putra pun bisa bernapas lega. Benar benar lega sampai tubuhnya yang tadi tegang, panas dingin dan ketar ketir menunggu balasan Putri pun akhirnya bisa kembali ke mode aman. Ia bersandar di tembok sembari menutup matanya. Merasa geli pada dirinya sendiri yang bereaksi begitu senang hanya karena Putri. Tapi dia menyukainya, sangat menyukainya. 

Maksud saya tadi gini harusnya. Pantesan waktu itu ketemu, gitu.

Sekarang giliran Putri yang dibuat bingung. Arti pantsan waktu itu ketemu tuh apa maksudnya? Si Putra suka nanem juga? Jadi mereka punya hobi yang sama gitu? Terus ketemu? Ih apa sih? Begitu isi pikirannya. 

                                            Putra suka nanem?

Iya suka. Waktu itu Putri mau beli bibit apa? 

Dari situ obrolan mereka pun mengalir begitu saja. Putri berpikir, kenapa Putra terus-terusan cari topik sih? Kelihatannya, cowok itu bukan cuma melakukan sebuah formalitas. Masa iya formalitas sampai menanyakan kabar tiap hari? Seperti nggak mau pembicaraan itu terputus meskipun Putri kadang nggak balas apa-apa.

Kenapa ya? Putri seringkali tersanjung sewaktu Putra memuji dirinya dengan cara yang begitu berkelas. Bukan terlihat seperti gombalan apalagi bualan. Kaya, dia muji itu bener-bener dari hati. Jujur dan nggak berlebihan. Sejujurnya, Putri suka itu. Karena melihat Putra itu tipe cowok yang belum pernah dia temui sebelumnya. Baru dan unik. Putri mengakui kalau dia suka hal baru, yang kebetulan hal baru itu adalah Putra, cowok yang punya kesan bagus di matanya. Bahkan di pikirannya. Tapi belum sampai menyentuh hatinya ya, karena rasanya terlalu cepat untuk menaruh Putra di dalam hati.

Putri kira Putra itu orang yang kaku dan nggak suka basa-basi, tapi ternyata cowok itu lumayan asik. Bahkan di hari ke sekian, cowok itu nggak segan ngebahas cicak hidup yang masuk ke gelas kopinya waktu begadang ngerjain tugas. Di kampus emang jarang ketemu, sekalinya papasan pasti cuma saling tatap doang abis itu udah. Tapi di chat beda lagi, sampe gosip di kompleks masing-masing pun dibahas. Dua-duanya seringkali lupa waktu, keseringan berkomunikasi jadi hapal kebiasaan masing-masing meskipun deketnya karena online. Dari chattingan itu Putri juga tau kalo Putra tipe orang yang rajin. Saking rajinnya suka telpon pagi-pagi buta buat bangunin. Kalo mereka lagi nggak ada obrolan, perang stiker pun dilakuin juga. Ketawa sendiri sambil lihat layar, senyum senyum malu padahal cuma baca ketikan. Rasa juga mulai tumbuh bukan lagi hanya oleh Putra tapi juga oleh Putri.

Di sisi lain Putri pun merasa bingung, apalagi ketika Putra menyatakan perasaanya. Di situ Putri berpikir, apa nggak terlalu cepat? Masalahnya Putri bingung bagaimana mendeskripsikan perasaannya. Nggak bisa dibilang suka juga karena dia masih merasa biasa aja. Tapi, apa ya? Lebih ke mulai terbiasa dengan kehadiran Putra. Anehnya dia nggak menolak kehadiran Putra, malah terkesan membiarkan Putra supaya bisa selangkah lebih dekat lagi. Kadang pun ia berpikir, apa ini nggak salah ya? Kok nggak ngebiarin Putra supaya berusaha lebih banyak? Terlalu welcome, apa itu baik?

Kebingungan Putri selalu sama. Apa dia terlalu welcome sehingga mereka bisa sampai tahap ini? Kenapa, kok rasanya cepat sekali? Padahal dulu dia nggak pernah tahan buka whatsap lebih dari 20 menit, tapi sekarang bisa berjam-jam. Dia nggak tau ini baik atau nggak, dia nggak ngerti. Apa karena Putra yang ternyata cocok sama dia, atau karena dia yang nyatanya terlalu mudah untuk didekati. Justru dia bimbang, takut semuanya emang nggak seperti apa yang dia pikirkan, takut ternyata berbanding terbalik dengan ekspektasinya. Tapi ya mau bagaimana lagi, mau menghindar juga kayanya nggak tepat. Masa iya sudah dekat kok tiba-tiba ngilang, nanti Putri disangka tukang ghosting, padahal kenyataannya Putri Cuma bingung sama perasaannya sendiri.

Meskipun cemas tentang ini itu, Putra semakin hari malah semakin manis. Nggak segan untuk menunjukkan bahwa dia memang tertarik lebih jauh bahkan sudah sampai tahap suka. Suka yang sukaa banget. Putri jujur sama Putra, kalo dia masih bingung sama perasaannya sendiri. Belum tau apa dia juga merasakan hal yang sama dengan Putra, atau ternyata nggak. Tapi Putra selalu menjawab dengan tenang, katanya "nggak apa-apa, nggak usah buru-buru, kita masih punya banyak waktu." Dan akhirnya Putri mengiyakan. Lagipula Putri nyaman untuk jujur tentang banyak hal pada Putra, termasuk jujur tentang kebingungan pada perasaannya sendiri. Dan kalau boleh jujur, Putra berhasil membuat Putri merasa nyaman. 

Jadi, sekarang dekat?




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gwaenchana

Inner Child. Namanya juga manusia, bukan hanya dilahirkan sebagai pemilik raga yang paling sempurna namun juga memiliki jiwa yang akan bertumbuh. Bukan hal yang mesti disalahkan, kalau kamu terlahir sebagai orang yang tidak mampu melakukan semuanya sendirian. Karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial.  Tapi pernahkah kamu merasa ada sesuatu yang belum selesai sembuh di masa kecil? Mungkin ada satu sifat burukmu yang terbentuk karena ada sesuatu yang belum terselesaikan dalam dirimu sendiri. Bisa jadi karena trauma dan kamu selalu bersembunyi untuk bertahan. Atau karena luka masa lalu dan kamu belum sanggup memaafkannya. Sadar tidak sadar, luka atau trauma itu akan menjadi sosok inner child yang bersembunyi dalam diri kamu, di bawah alam sadar yang memengaruhi kamu ketika merespon sebuah masalah, membuat keputusan atau bahkan ketika berhadapan dengan orang lain.  Namun, semakin kamu membenci luka itu, semakin kamu bersembunyi dari trauma itu, jiwamu semakin tidak berk...

My social media

  Instagram : @Malikamay_ Spotify : CheonsaWorld https://open.spotify.com/show/1oE6ICbDMXCSAwpSNcKtca Podcast aku di stitcher : https://partners.stitcher.com/show/688568/stats Youtube : Malikamay  https://youtube.com/channel/UCmRYokSVy4Uy5LTIBm5ZTDQ Blog :  Wattpad : @akucheonsaa Dan kamu bisa cerita ke aku di sini, terserah cerita apa aja.  https://forms.gle/EtDCH6ZvCXEZifiu9  atau kirim ke email ya Email : malikazahiraputri@gmail.com

Tertarik Pada si Melankolis part 5

Putri's POV Aku udah lumayan lama deket sama Putra. Beberapa minggu lalu dia ngajak aku ke hubungan yang lebih serius, jadian maksudnya. 2 bulan mungkin cukup lama buat pdkt, banyak sisi menyenangkan yang Putra tunjukkin ke aku. Humoris iya, open minded iya, dewasa iya, enak diajak ngobrol iya, seru iya, bisa diandalkan iya, udah gitu mandiri juga iya. Seolah, Putra adalah seseorang yang aku cari-cari selama ini. Gimana cara dia ngetreat aku, jelas beda sama orang-orang sebelumnya. Yaa bisa dibilang cara pdkt Putra lumayan unik. Aku jelas suka hal yang baru, jujur aja 2 bulan ini dia berhasil bikin aku nyaman dengan semua aspek dalam dirinya. Termasuk cara dia menghadapi emosi sendiri. Dia pernah bilang, "aku pengen serius sama hubungan ini, kamu sepadan sama aku Pu. Ternyata kamu orangnya dewasa, padahal muka kamu baby face banget. Kamu itu orang yang aku cari, aku berharap punya istri yang bisa momong, yang sikapnya dewasa, yang enak diajak ngobrol, yang kuat hatinya, yang g...