Pernah ngga sih kamu tertarik sama seseorang yang baru kamu kenal? Kaya, dia itu tipe orang yang belum pernah kamu temui sebelumnya. Dia baru dan unik.
Emang sih, orang itu selalu suka sama hal baru. Di awal ketertarikan itu terasa menggebu-gebu. Bibir jadi mudah tersenyum, hati jadi berdesir, salah tingkah nggak karuan. Nggak tau kenapa, tiba-tiba bisa ngerasa seneng padahal cuma lihat wajah orang itu dari jarak jauh. Bahkan si dia baru keliatan di ujung jalan aja senangnya udah sampe ke hati, padahal dia nggak ngelakuin apa-apa. Cuma jalan aja dan anehnya kamu ngerasa senang.
Pernah ngerasa geer gak sih kalo si crush ternyata punya perasaan yang sama? Seolah dia juga punya ketertarikan yang sama kaya kita. Padahal kan kita gak pernah tau, bener atau nggak. Sekedar rasa yang divalidasi sepihak. Alasan apa yang pertama kali terbesit waktu kamu tertarik sama seseorang?
Penampilan kah?
Mungkin iya. Secara Alamiah, baik aku atau kamu pasti suka lihat seseorang yang menarik apalagi kalau dia bisa menjaga penampilannya.
First impressions are the last impressions.
Kenapa? Karena kesan pertama itu penting. Sadar atau nggak, kamu pasti tertarik untuk menjalin sebuah hubungan baik dengan orang yang memberikan first impression mengesankan. Mau itu dijadikan teman, rekan kerja, atau bahkan kekasih, mungkin.
Percaya dengan istilah love at the first sight? Mungkin juga kamu pernah mengalami sendiri. Bisa aja kamu tertarik karena melihat senyumannya meskipun baru pertama kali ketemu atau mungkin udah lama ketemu tapi baru disenyumin sekarang. Terus nggak bisa lupa sama cara dia menatap kamu. Padahal lagi diem tapi suka tiba-tiba keinget, salting sendiri terus akhirnya penasaran sama kehidupan si crush.
Tapi, first
impression bukan segalanya. Jangan hanya karena kamu sudah menampilkan kesan
pertama yang baik, lalu kamu abai dengan kesan yang akan timbul di kesempatan
lainnya. Karena pertemuan yang berlanjut setelah pertemuan pertama itulah yang
menentukan kualitas sebuah hubungan.
Penampilan
bisa berbohong. Nggak semua orang terlihat sama seperti apa yang dia tampilkan.
Ada kalanya seseorang yang kelihatannya pendiam bahkan disangka sombong, malah menjadi orang yang paling ceria saat berada bersama teman dekatnya. Don’t
judge the book by it’s cover.
Setelah
tertarik dengan penampilan, abis itu apa?
Kamu sering
curi pandang kalau ketemu? Atau malah berani menatap langsung, meskipun dia
mergokin kamu?
Mungkin dari tatapan ini, dia bisa peka kalau kamu tertarik sama dia. Kamu emang nggak bicara apa-apa, tapi dia bisa aja menerjemahkan tatapan mata kamu. Dari situ kamu mungkin berharap akan ada kelanjutan dari sebatas ketertarikan itu. Ada tipe yang hanya bisa memendam dan bahagia sendiri meskipun perasaannya nggak diutarakan, tapi ada juga tipe yang memilih mengungkapkan langsung setelah berpikir sekian lama dan akhirnya ketertarikan itu nggak bisa dia tahan sendiri.
Sekarang
aku mau ceritain tipe yang kedua. Tentang Putri yang melankolis dan Putra yang
koleris.
Sebelumnya,
apa sih melankolis? Kenapa Putri dibilang melankolis? Biasanya melankolis
dihubungkan dengan suasana sedih mendayu-dayu. Padahal melankolis itu tipe
kepribadian yang orangnya cenderung pendiam, pemikir, perasa bahkan dia
perhatian sama hal yang detail. Tipe melankolis itu cenderung hati-hati dan
gampang ngerasa cemas. Dia punya standar sempurna yang dibuatnya sendiri. Sama
kaya Putri.
Putri itu
cantik orangnya. Cuma dia nggak menyadari itu dan kurang percaya diri. Suatu
hari dia ketemu sama Putra di sebuah acara seni yang diadakan kampus. Putra itu
orangnya koleris, yang punya bakat alami untuk menjadi dominan dimanapun dia
berada. Putra selalu bisa membuat keputusan karena memiliki prinsip dan rasa
percaya diri yang tinggi. Kalau kamu mau tau, koleris itu orang yang punya
ambisi dan berorientasi pada hasil. Orang yang koleris nggak akan sulit untuk
menentukan target. Tapi dia juga cepat merasa bosan dan memiliki dorongan untuk
membuat suatu perubahan. Putra itu orangnya mandiri dan serius. Kadang dia stress
karena saking seriusnya.
Dua orang
itu bertemu untuk kali pertama waktu matahari sedang bersinar begitu teriknya.
Putri yang nggak suka menjadi pusat perhatian merasa tertekan waktu dia nggak
sengaja menyenggol tumpukan gelas yang disusun rapi. Suara beling pecah membuat
perhatian semua orang tertuju padanya. Jelas sekali dia panik dan nggak tahu
harus berbuat apa, sampai Putra datang dan meminta maaf pada partisipan lain
kemudian mengarahkan teman-temannya untuk membantu Putri membereskan kekacauan
yang terjadi.
Dengan
wajah tidak enak, Putri memaksakan diri untuk meminta maaf. Namun dengan senyum
yang tipis, Putra menjawab. “Nggak apa-apa. Kamu nggak sengaja.” Ucapan singkat
tapi membuat Putri tenang. Setidaknya, ada satu orang yang membuat Putri merasa
dilindungi padahal mereka nggak saling kenal sebelumnya.
“Makasih
banyak.” Ucap Putri pelan setelah semua kekacauan telah diselesaikan. Putra
dengan entengnya mengangguk. “Sama-sama.” Kemudian pergi dari hadapan Putri.
Semua kembali berjalan seperti awal, namun anehnya mata Putra selalu terasa
mengawasi dari suatu sudut di balik keramaian. Putri bukan bermaksud terlalu
percaya diri, hanya saja sel tubuhnya aktif saat merasakan seseorang tengah
menatapnya diam-diam. Dia menoleh ke kiri, terkejut karena ternyata Putra
memang sedang menatap ke arahnya. Cowok itu terlihat kaget dan segera menatap
ke arah lain. Pipi Putri memerah. Dia memang perasa dan sayangnya terlalu peka
untuk merasakan kalau Putra tertarik padanya. Dibuktikan ketika bukan sekali
dua kali dia memergoki Putra yang menatap ke arahnya. Dan terakhir, Putra
memberanikan diri untuk menatap langsung tanpa berniat mengalihkan tatapan seperti
sebelumnya.
Pandangan
mereka bertemu untuk yang kesekian kalinya hari itu. Dari kesan awal yang
ditampilkan Putra, cewek itu bisa menilai kalau Putra termasuk cowok yang
disegani banyak orang dan disukai banyak cewek karena kharismanya yang kuat.
Tipe cowok yang bakal berusaha keras untuk memperjuangkan sesuatu yang dia
ingin sampai akhirnya dapat. Tipe cowok yang mandiri dan berprinsip. Dari cara
bicaranya pun, Putri bisa menilai kalau cowok itu lugas dan kurang suka
berbasa-basi.
Mata coklat
Putra masih terus menatap lurus ke arah Putri, seolah bicara banyak. Keadaan
bising itu seolah nggak ada pengaruhnya buat mereka. Nggak tahu harus berbuat
apa, Putri akhirnya memutuskan kontak mata itu dengan cara menunduk melihat
sepatunya. Dia nggak mau Putra berpikir aneh-aneh karena sudah lancang membalas
tatapan cowok itu, meskipun memang Putra yang sudah lancang karena menatapi
anak gadis orang.
Putri nggak
tahu kalau Putra tersenyum tipis. Ternyata menatap terang-terangan lebih seru
daripada mencuri pandang. Ini baru langkah pertama, selanjutnya akan dia susun
langkah yang lebih lugas lagi. Untuk sekarang yang penting Putri tahu kalau dia
tertarik padanya.
Selang 3 hari
ternyata mereka bertemu lagi. Kali ini Putra yang mengusahakan. Sejak rajin
nge-stalk media sosial Putri, Putra tau kalau cewek itu suka berkebun. Ada
sebuah toko peralatan kebun yang selalu Putri datangi setiap minggunya. Karena
itu dia mengumpulkan keberanian untuk pergi ke sana demi menciptakan keadaan
kalau mereka nggak sengaja bertemu lagi. Padahal sebelumnya sudah direncanakan
matang-matang, bahkan mencari baju bagus dan menyikat sepatu.
Putra
tersenyum senang melihat wajah manis Putri di sebrang jalan. Semangat hidupnya
seolah naik menjadi 100 persen. Matanya bergerak mencari sosok mungil Putri
seolah hilang di tengah kerumunan orang yang hendak menyebrang. Meski
penampilan cewek itu sederhana, matanya hanya mau menatap pada Putri. Saking
seriusnya menatapi, dia sampai nggak sadar kalau Putri juga menyadari
keberadaannya dan berjalan mendekat. Barulah saat tersisa beberapa langkah
lagi, Putra terkejut dan buru-buru berdiri tegak. Cowok itu berdeham, padahal
tidak ingin batuk.
Sudah siap
ingin menyapa. “H..ha!” Namun Putri ternyata berjalan melewatinya begitu saja. Malu
sudah Putra saat itu.
“Anju
malu!” Dia berucap pelan, dengan gaya tetap cool. Ternyata dia sudah ke-geeran
kalau Putri mau melangkah ke arahnya, padahal Putri mau masuk ke dalam toko.
Putra saja yang berdirinya tepat di sebelah pintu, seolah-olah Putri datang dan
mendekat tanpa dia minta.
Di dalam
toko, Putri juga merasa tidak enak karena tidak menyapa Putra. Bukan apa-apa,
dia malu. Bertemu dengan seseorang yang tertarik padanya itu membuat suasana
sedikit canggung, atau malah banyak. Pasalnya Putri tahu kalau cowok itu
mungkin akan penasaran tentang kehidupannya dan berusaha mencari tahu. Dia
tidak melarang kalau cowok itu akan melakukannya, toh kalau rasa penasarannya
sudah terpuaskan dan ternyata Putri bukanlah kriteria yang dia mau, pasti akan
berhenti sendiri.
Kakinya
melangkah menyusuri toko, mencari pupuk dan benih yang dia mau. Berusaha sibuk
dan mengabaikan seseorang yang mengikuti langkahnya, jauh di belakang. Risih
sebenarnya, dibuntuti seperti ini membuat pergerakannya tidak bebas. Tapi dia
tidak berani menoleh apalagi menegur, takut semua itu hanyalah perasaannya
saja.
Nggak nggak. Dia bukan ngikutin lo Put yaelah.
Namanya juga toko kan, semua juga bebas mau jalan kemana. Jangan geer lo jadi
cewek. Malu!
Sibuk
dengan isi kepalanya, dia tidak sadar kalau di depan kakinya ada sebuah
keranjang berisi perkakas. Terus saja jalan sambil bersungut-sungut dalam hati
kemudian jatuh karena kakinya menendang keranjang.
PRANG!
GEDEBUGH!
“Aduh di
selengkat keranjang! Dasar an-” Pekiknya tak sadar. Mulutnya sudah ingin
mengumpat namun dia sadar kalau di toko ini juga ada banyak orang. Pipinya
memerah karena lagi-lagi harus mengalami kejadian memalukan di depan cowok itu.
“Aduh malu
banget maluu.” Ringisnya pelan, ia melihat sepasang sepatu berhenti di
depannya. Si pemilik ternyata berjongkok kemudian memunguti perkakas yang
berserakan dimana-mana setelah keranjangnya tak sengaja Putri tendang. Malu
rasanya sampai ingin menghilang sajalah.
Tiba-tiba
datang penjaga toko karena terkejut mendengar suara bising itu. Dengan tenang
Putra meminta maaf dan mau mengganti pupuk yang tumpah. Untunglah penjaga
tokonya baik dan memaklumi ketidak sengajaan itu. Tapi tetap saja Putri malu
bukan kepalang karena lagi-lagi harus berhutang budi pada cowok yang nggak dia
kenal, apalagi Putri tahu kalau cowok itu tertarik padanya.
“Maaf ya.”
Ucap Putri pelan sambil menunduk. Mana berani dia menatap netra coklat yang
sedari awal terus terarah padanya. “Nggak apa-apa, kamu nggak sengaja.”
Sepertinya Putri menyerah. Dia mengangguk pelan dan memilih berbalik untuk
segera kabur dari hadapan cowok itu.
“Mau
kemana?” Langkah Putri berhenti seketika. Dia mengaduh pelan dan kembali
berbalik menghadap Putra. “Pulang.” Katanya singkat. Bukan karena cuek atau
bagaimana, tapi Putri memang malu.
“Saya antar
mau?” Putri bimbang. Dia sih mau mau aja, biar uang untuk ongkosnya tetap aman.
Tapi masalahnya dia kan nggak kenal cowok itu. Baru dua kali ketemu dan itu pun
karena kejadian memalukan yang bikin Putri rasanya ingin kelelep saja di bak.
“Nggak
apa-apa, saya naik angkot.” Tolak Putri halus, sambil berharap kalau cowok itu
nggak akan kesinggung. Putra sedikit kecewa tapi akhirnya mengangguk. Dia
mengerti, mungkin terlalu cepat. Lain kali dia harus lebih giat untuk mendekati
Putri sampai akhirnya bisa mengantar Putri pulang. Aduh membayangkannya saja, Putra sudah senang ingin jingkrak-jingkrak di atas kasur.
“Oh yaudah
hati-hati ya.” Putri mengangguk dan tersenyum tipis kemudian segera pergi dari
sana. Dia baru bisa bernapas lega waktu sudah berada di angkot, karena Putra
nggak memperhatikannya lagi. Tapi ternyata di salah, Putra tetap mengikuti
angkot ini dengan motornya. Cowok itu kelihatan ganteng di antara pengendara
motor lain di jalanan. Tidak mau geer, Putri lebih memilih sibuk menonton
tutorial memasak walaupun sia-sia. Pikirannya pasti kembali ke Putra. Seperti, kok cowok itu ngikutin sih? Eh apa emang
rumahnya emang lewat sini ya? Aduh iya kali ah jangan geer dulu kenapa sih?!
Annyeonghaseyo ini tuh jalan raya! Bebas lah mau dipake siapa aja termasuk itu
cowok. Udah udah jangan dipikirin ya. Kali aja searah pulangnya. Oke. Iya oke.
Putri turun
di perempatan jalan untuk masuk ke perumahannya. Melihat cowok itu ikut
berhenti nggak jauh dari tempatnya berdiri dan tiba-tiba mengangkat telepon.
Nggak mau ambil pusing, Putri memilih pulang saja berjalan kaki. Tapi baru 5
langkah, cowok itu memanggil ‘Mbak! Mbak yang pake baju biru!’ katanya. Putri
menoleh karena dia sedang pakai baju biru dan cuma dia satu-satunya perempuan
yang jalan di sana.
“Iya?”
Cowok itu
memberhentikan motornya di sebelah Putri. “Saya Putra, yang waktu itu di acara
seni.” Putri tentu saja ingat, mana mungkin dia bisa lupa secepat itu pada
orang yang sudah menolongnya dari rasa malu. “Iya.” Jawab Putri seadanya,
soalnya dia nggak tahu lagi harus jawab apa. Sebut aja dia nggak pandai
berbasa-basi sama orang lain.
“Tadi maaf
saya ikutin ya, soalnya tuh ada copet yang masuk ke angkot yang kamu naikin
tadi. Bukan maksudnya mau menguntit ya, maaf kalau kamu nggak nyaman.” Ucapan
cowok itu sukses membuat Putri terdiam sekaligus kagum. Dia jadi malu sendiri
sudah geer kalau cowok ini tertarik padanya sampai mengikuti kemana dia pulang.
Putri
mengangguk. “Oh iya terima kasih lagi.” Ucapnya tulus. Tidak tahu lagi harus
berkata apa, karena cowok ini sudah menunjukkan banyak kebaikan bahkan baru
pertemuan kedua. “Kalau kamu nggak keberatan, saya antar sampai rumah ya.
Mendung takut nanti kehujanan.” Putri berkedip lambat. Jadi, cowok ini modus
atau bagaimana? Tapi kan baik, masa iya modus modusan. Tapi Putri harus
bagaimana? Malu juga kalau tiba-tiba mengiyakan, takut disangka murahan.
Kebetulan
yang menyenangkan gerimis tiba-tiba turun. Putra tahu kalau cewek ini pasti
nggak nyaman, untunglah dia bawa payung di dalam jok dan segera turun lalu mengeluarkannya.
“Ini kamu pake aja payungnya.”
“Nggak usah
gapapa kok deket.” Tolak Putri dengan halus.
“Pake aja,
saya bawa jas hujan kok. Kamu soalnya kan jalan kaki.”
Putri luluh
akhirnya melihat tatapan memohon Putra yang terlihat lucu karena wajahnya
dibuat menjadi tegas. Ia menerima payung itu dan berterima kasih lagi. Membuat
hati Putra menghangat padahal tubuhnya sedang dingin karena angin. Putri
berjalan pulang setelah berpamitan singkat, dia ingin menoleh lagi ke belakang
untuk memastikan kalau cowok itu sudah memakai jas hujan dan pulang ke
rumahnya, tapi dia malu dan akhirnya terus menatap ke depan sampai ia berada di
depan rumah.
Meskipun
Putri nggak menoleh lagi, Putra tetap senang. Rasa tertariknya mulai masuk ke
tahap suka. Dia melajukan motornya menerobos hujan, bernyanyi kencang di jalan
raya tanpa memperdulikan orang-orang, dan tetap memasang senyum lebar meskipun
pulang dalam keadaan basah kuyup lalu diomeli Ibunya.

Komentar
Posting Komentar