Langsung ke konten utama

Tertarik pada si Melankolis part 1



Pernah ngga sih kamu tertarik sama seseorang yang baru kamu kenal? Kaya, dia itu tipe orang yang belum pernah kamu temui sebelumnya. Dia baru dan unik.

Emang sih, orang itu selalu suka sama hal baru. Di awal ketertarikan itu terasa menggebu-gebu. Bibir jadi mudah tersenyum, hati jadi berdesir, salah tingkah nggak karuan. Nggak tau kenapa, tiba-tiba bisa ngerasa seneng padahal cuma lihat wajah orang itu dari jarak jauh. Bahkan si dia baru keliatan di ujung jalan aja senangnya udah sampe ke hati, padahal dia nggak ngelakuin apa-apa. Cuma jalan aja dan anehnya kamu ngerasa senang.

Pernah ngerasa geer gak sih kalo si crush ternyata punya perasaan yang sama? Seolah dia juga punya ketertarikan yang sama kaya kita. Padahal kan kita gak pernah tau, bener atau nggak. Sekedar rasa yang divalidasi sepihak. Alasan apa yang pertama kali terbesit waktu kamu tertarik sama seseorang?

Penampilan kah?

Mungkin iya. Secara Alamiah, baik aku atau kamu pasti suka lihat seseorang yang menarik apalagi kalau dia bisa menjaga penampilannya. 

First impressions are the last impressions. 

Kenapa? Karena kesan pertama itu penting. Sadar atau nggak, kamu pasti tertarik untuk menjalin sebuah hubungan baik dengan orang yang memberikan first impression mengesankan. Mau itu dijadikan teman, rekan kerja, atau bahkan kekasih, mungkin.

Percaya dengan istilah love at the first sight? Mungkin juga kamu pernah mengalami sendiri. Bisa aja kamu tertarik karena melihat senyumannya meskipun baru pertama kali ketemu atau mungkin udah lama ketemu tapi baru disenyumin sekarang. Terus nggak bisa lupa sama cara dia menatap kamu. Padahal lagi diem tapi suka tiba-tiba keinget, salting sendiri terus akhirnya penasaran sama kehidupan si crush. 

Tapi, first impression bukan segalanya. Jangan hanya karena kamu sudah menampilkan kesan pertama yang baik, lalu kamu abai dengan kesan yang akan timbul di kesempatan lainnya. Karena pertemuan yang berlanjut setelah pertemuan pertama itulah yang menentukan kualitas sebuah hubungan.

Penampilan bisa berbohong. Nggak semua orang terlihat sama seperti apa yang dia tampilkan. Ada kalanya seseorang yang kelihatannya pendiam bahkan disangka sombong, malah menjadi orang yang paling ceria saat berada bersama teman dekatnya. Don’t judge the book by it’s cover.

Setelah tertarik dengan penampilan, abis itu apa?

Kamu sering curi pandang kalau ketemu? Atau malah berani menatap langsung, meskipun dia mergokin kamu?

Mungkin dari tatapan ini, dia bisa peka kalau kamu tertarik sama dia. Kamu emang nggak bicara apa-apa, tapi dia bisa aja menerjemahkan tatapan mata kamu. Dari situ kamu mungkin berharap akan ada kelanjutan dari sebatas ketertarikan itu. Ada tipe yang hanya bisa memendam dan bahagia sendiri meskipun perasaannya nggak diutarakan, tapi ada juga tipe yang memilih mengungkapkan langsung setelah berpikir sekian lama dan akhirnya ketertarikan itu nggak bisa dia tahan sendiri.

Sekarang aku mau ceritain tipe yang kedua. Tentang Putri yang melankolis dan Putra yang koleris.

Sebelumnya, apa sih melankolis? Kenapa Putri dibilang melankolis? Biasanya melankolis dihubungkan dengan suasana sedih mendayu-dayu. Padahal melankolis itu tipe kepribadian yang orangnya cenderung pendiam, pemikir, perasa bahkan dia perhatian sama hal yang detail. Tipe melankolis itu cenderung hati-hati dan gampang ngerasa cemas. Dia punya standar sempurna yang dibuatnya sendiri. Sama kaya Putri.

Putri itu cantik orangnya. Cuma dia nggak menyadari itu dan kurang percaya diri. Suatu hari dia ketemu sama Putra di sebuah acara seni yang diadakan kampus. Putra itu orangnya koleris, yang punya bakat alami untuk menjadi dominan dimanapun dia berada. Putra selalu bisa membuat keputusan karena memiliki prinsip dan rasa percaya diri yang tinggi. Kalau kamu mau tau, koleris itu orang yang punya ambisi dan berorientasi pada hasil. Orang yang koleris nggak akan sulit untuk menentukan target. Tapi dia juga cepat merasa bosan dan memiliki dorongan untuk membuat suatu perubahan. Putra itu orangnya mandiri dan serius. Kadang dia stress karena saking seriusnya.

Dua orang itu bertemu untuk kali pertama waktu matahari sedang bersinar begitu teriknya. Putri yang nggak suka menjadi pusat perhatian merasa tertekan waktu dia nggak sengaja menyenggol tumpukan gelas yang disusun rapi. Suara beling pecah membuat perhatian semua orang tertuju padanya. Jelas sekali dia panik dan nggak tahu harus berbuat apa, sampai Putra datang dan meminta maaf pada partisipan lain kemudian mengarahkan teman-temannya untuk membantu Putri membereskan kekacauan yang terjadi.

Dengan wajah tidak enak, Putri memaksakan diri untuk meminta maaf. Namun dengan senyum yang tipis, Putra menjawab. “Nggak apa-apa. Kamu nggak sengaja.” Ucapan singkat tapi membuat Putri tenang. Setidaknya, ada satu orang yang membuat Putri merasa dilindungi padahal mereka nggak saling kenal sebelumnya.

“Makasih banyak.” Ucap Putri pelan setelah semua kekacauan telah diselesaikan. Putra dengan entengnya mengangguk. “Sama-sama.” Kemudian pergi dari hadapan Putri. Semua kembali berjalan seperti awal, namun anehnya mata Putra selalu terasa mengawasi dari suatu sudut di balik keramaian. Putri bukan bermaksud terlalu percaya diri, hanya saja sel tubuhnya aktif saat merasakan seseorang tengah menatapnya diam-diam. Dia menoleh ke kiri, terkejut karena ternyata Putra memang sedang menatap ke arahnya. Cowok itu terlihat kaget dan segera menatap ke arah lain. Pipi Putri memerah. Dia memang perasa dan sayangnya terlalu peka untuk merasakan kalau Putra tertarik padanya. Dibuktikan ketika bukan sekali dua kali dia memergoki Putra yang menatap ke arahnya. Dan terakhir, Putra memberanikan diri untuk menatap langsung tanpa berniat mengalihkan tatapan seperti sebelumnya.

Pandangan mereka bertemu untuk yang kesekian kalinya hari itu. Dari kesan awal yang ditampilkan Putra, cewek itu bisa menilai kalau Putra termasuk cowok yang disegani banyak orang dan disukai banyak cewek karena kharismanya yang kuat. Tipe cowok yang bakal berusaha keras untuk memperjuangkan sesuatu yang dia ingin sampai akhirnya dapat. Tipe cowok yang mandiri dan berprinsip. Dari cara bicaranya pun, Putri bisa menilai kalau cowok itu lugas dan kurang suka berbasa-basi.

Mata coklat Putra masih terus menatap lurus ke arah Putri, seolah bicara banyak. Keadaan bising itu seolah nggak ada pengaruhnya buat mereka. Nggak tahu harus berbuat apa, Putri akhirnya memutuskan kontak mata itu dengan cara menunduk melihat sepatunya. Dia nggak mau Putra berpikir aneh-aneh karena sudah lancang membalas tatapan cowok itu, meskipun memang Putra yang sudah lancang karena menatapi anak gadis orang.

Putri nggak tahu kalau Putra tersenyum tipis. Ternyata menatap terang-terangan lebih seru daripada mencuri pandang. Ini baru langkah pertama, selanjutnya akan dia susun langkah yang lebih lugas lagi. Untuk sekarang yang penting Putri tahu kalau dia tertarik padanya.

Selang 3 hari ternyata mereka bertemu lagi. Kali ini Putra yang mengusahakan. Sejak rajin nge-stalk media sosial Putri, Putra tau kalau cewek itu suka berkebun. Ada sebuah toko peralatan kebun yang selalu Putri datangi setiap minggunya. Karena itu dia mengumpulkan keberanian untuk pergi ke sana demi menciptakan keadaan kalau mereka nggak sengaja bertemu lagi. Padahal sebelumnya sudah direncanakan matang-matang, bahkan mencari baju bagus dan menyikat sepatu.

Putra tersenyum senang melihat wajah manis Putri di sebrang jalan. Semangat hidupnya seolah naik menjadi 100 persen. Matanya bergerak mencari sosok mungil Putri seolah hilang di tengah kerumunan orang yang hendak menyebrang. Meski penampilan cewek itu sederhana, matanya hanya mau menatap pada Putri. Saking seriusnya menatapi, dia sampai nggak sadar kalau Putri juga menyadari keberadaannya dan berjalan mendekat. Barulah saat tersisa beberapa langkah lagi, Putra terkejut dan buru-buru berdiri tegak. Cowok itu berdeham, padahal tidak ingin batuk.

Sudah siap ingin menyapa. “H..ha!” Namun Putri ternyata berjalan melewatinya begitu saja. Malu sudah Putra saat itu.

“Anju malu!” Dia berucap pelan, dengan gaya tetap cool. Ternyata dia sudah ke-geeran kalau Putri mau melangkah ke arahnya, padahal Putri mau masuk ke dalam toko. Putra saja yang berdirinya tepat di sebelah pintu, seolah-olah Putri datang dan mendekat tanpa dia minta.

Di dalam toko, Putri juga merasa tidak enak karena tidak menyapa Putra. Bukan apa-apa, dia malu. Bertemu dengan seseorang yang tertarik padanya itu membuat suasana sedikit canggung, atau malah banyak. Pasalnya Putri tahu kalau cowok itu mungkin akan penasaran tentang kehidupannya dan berusaha mencari tahu. Dia tidak melarang kalau cowok itu akan melakukannya, toh kalau rasa penasarannya sudah terpuaskan dan ternyata Putri bukanlah kriteria yang dia mau, pasti akan berhenti sendiri.

Kakinya melangkah menyusuri toko, mencari pupuk dan benih yang dia mau. Berusaha sibuk dan mengabaikan seseorang yang mengikuti langkahnya, jauh di belakang. Risih sebenarnya, dibuntuti seperti ini membuat pergerakannya tidak bebas. Tapi dia tidak berani menoleh apalagi menegur, takut semua itu hanyalah perasaannya saja.

Nggak nggak. Dia bukan ngikutin lo Put yaelah. Namanya juga toko kan, semua juga bebas mau jalan kemana. Jangan geer lo jadi cewek. Malu!

Sibuk dengan isi kepalanya, dia tidak sadar kalau di depan kakinya ada sebuah keranjang berisi perkakas. Terus saja jalan sambil bersungut-sungut dalam hati kemudian jatuh karena kakinya menendang keranjang.

PRANG! GEDEBUGH!

“Aduh di selengkat keranjang! Dasar an-” Pekiknya tak sadar. Mulutnya sudah ingin mengumpat namun dia sadar kalau di toko ini juga ada banyak orang. Pipinya memerah karena lagi-lagi harus mengalami kejadian memalukan di depan cowok itu.

“Aduh malu banget maluu.” Ringisnya pelan, ia melihat sepasang sepatu berhenti di depannya. Si pemilik ternyata berjongkok kemudian memunguti perkakas yang berserakan dimana-mana setelah keranjangnya tak sengaja Putri tendang. Malu rasanya sampai ingin menghilang sajalah.

Tiba-tiba datang penjaga toko karena terkejut mendengar suara bising itu. Dengan tenang Putra meminta maaf dan mau mengganti pupuk yang tumpah. Untunglah penjaga tokonya baik dan memaklumi ketidak sengajaan itu. Tapi tetap saja Putri malu bukan kepalang karena lagi-lagi harus berhutang budi pada cowok yang nggak dia kenal, apalagi Putri tahu kalau cowok itu tertarik padanya.

“Maaf ya.” Ucap Putri pelan sambil menunduk. Mana berani dia menatap netra coklat yang sedari awal terus terarah padanya. “Nggak apa-apa, kamu nggak sengaja.” Sepertinya Putri menyerah. Dia mengangguk pelan dan memilih berbalik untuk segera kabur dari hadapan cowok itu.

“Mau kemana?” Langkah Putri berhenti seketika. Dia mengaduh pelan dan kembali berbalik menghadap Putra. “Pulang.” Katanya singkat. Bukan karena cuek atau bagaimana, tapi Putri memang malu.

“Saya antar mau?” Putri bimbang. Dia sih mau mau aja, biar uang untuk ongkosnya tetap aman. Tapi masalahnya dia kan nggak kenal cowok itu. Baru dua kali ketemu dan itu pun karena kejadian memalukan yang bikin Putri rasanya ingin kelelep saja di bak.

“Nggak apa-apa, saya naik angkot.” Tolak Putri halus, sambil berharap kalau cowok itu nggak akan kesinggung. Putra sedikit kecewa tapi akhirnya mengangguk. Dia mengerti, mungkin terlalu cepat. Lain kali dia harus lebih giat untuk mendekati Putri sampai akhirnya bisa mengantar Putri pulang. Aduh membayangkannya saja, Putra sudah senang ingin jingkrak-jingkrak di atas kasur.

“Oh yaudah hati-hati ya.” Putri mengangguk dan tersenyum tipis kemudian segera pergi dari sana. Dia baru bisa bernapas lega waktu sudah berada di angkot, karena Putra nggak memperhatikannya lagi. Tapi ternyata di salah, Putra tetap mengikuti angkot ini dengan motornya. Cowok itu kelihatan ganteng di antara pengendara motor lain di jalanan. Tidak mau geer, Putri lebih memilih sibuk menonton tutorial memasak walaupun sia-sia. Pikirannya pasti kembali ke Putra. Seperti, kok cowok itu ngikutin sih? Eh apa emang rumahnya emang lewat sini ya? Aduh iya kali ah jangan geer dulu kenapa sih?! Annyeonghaseyo ini tuh jalan raya! Bebas lah mau dipake siapa aja termasuk itu cowok. Udah udah jangan dipikirin ya. Kali aja searah pulangnya. Oke. Iya oke.

Putri turun di perempatan jalan untuk masuk ke perumahannya. Melihat cowok itu ikut berhenti nggak jauh dari tempatnya berdiri dan tiba-tiba mengangkat telepon. Nggak mau ambil pusing, Putri memilih pulang saja berjalan kaki. Tapi baru 5 langkah, cowok itu memanggil ‘Mbak! Mbak yang pake baju biru!’ katanya. Putri menoleh karena dia sedang pakai baju biru dan cuma dia satu-satunya perempuan yang jalan di sana.

“Iya?”

Cowok itu memberhentikan motornya di sebelah Putri. “Saya Putra, yang waktu itu di acara seni.” Putri tentu saja ingat, mana mungkin dia bisa lupa secepat itu pada orang yang sudah menolongnya dari rasa malu. “Iya.” Jawab Putri seadanya, soalnya dia nggak tahu lagi harus jawab apa. Sebut aja dia nggak pandai berbasa-basi sama orang lain.

“Tadi maaf saya ikutin ya, soalnya tuh ada copet yang masuk ke angkot yang kamu naikin tadi. Bukan maksudnya mau menguntit ya, maaf kalau kamu nggak nyaman.” Ucapan cowok itu sukses membuat Putri terdiam sekaligus kagum. Dia jadi malu sendiri sudah geer kalau cowok ini tertarik padanya sampai mengikuti kemana dia pulang.

Putri mengangguk. “Oh iya terima kasih lagi.” Ucapnya tulus. Tidak tahu lagi harus berkata apa, karena cowok ini sudah menunjukkan banyak kebaikan bahkan baru pertemuan kedua. “Kalau kamu nggak keberatan, saya antar sampai rumah ya. Mendung takut nanti kehujanan.” Putri berkedip lambat. Jadi, cowok ini modus atau bagaimana? Tapi kan baik, masa iya modus modusan. Tapi Putri harus bagaimana? Malu juga kalau tiba-tiba mengiyakan, takut disangka murahan.

Kebetulan yang menyenangkan gerimis tiba-tiba turun. Putra tahu kalau cewek ini pasti nggak nyaman, untunglah dia bawa payung di dalam jok dan segera turun lalu mengeluarkannya. “Ini kamu pake aja payungnya.”

“Nggak usah gapapa kok deket.” Tolak Putri dengan halus.

“Pake aja, saya bawa jas hujan kok. Kamu soalnya kan jalan kaki.”

Putri luluh akhirnya melihat tatapan memohon Putra yang terlihat lucu karena wajahnya dibuat menjadi tegas. Ia menerima payung itu dan berterima kasih lagi. Membuat hati Putra menghangat padahal tubuhnya sedang dingin karena angin. Putri berjalan pulang setelah berpamitan singkat, dia ingin menoleh lagi ke belakang untuk memastikan kalau cowok itu sudah memakai jas hujan dan pulang ke rumahnya, tapi dia malu dan akhirnya terus menatap ke depan sampai ia berada di depan rumah.

Meskipun Putri nggak menoleh lagi, Putra tetap senang. Rasa tertariknya mulai masuk ke tahap suka. Dia melajukan motornya menerobos hujan, bernyanyi kencang di jalan raya tanpa memperdulikan orang-orang, dan tetap memasang senyum lebar meskipun pulang dalam keadaan basah kuyup lalu diomeli Ibunya.

Ya ampun, tertarik dengan seseorang memang semenyenangkan ini, di awal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gwaenchana

Inner Child. Namanya juga manusia, bukan hanya dilahirkan sebagai pemilik raga yang paling sempurna namun juga memiliki jiwa yang akan bertumbuh. Bukan hal yang mesti disalahkan, kalau kamu terlahir sebagai orang yang tidak mampu melakukan semuanya sendirian. Karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial.  Tapi pernahkah kamu merasa ada sesuatu yang belum selesai sembuh di masa kecil? Mungkin ada satu sifat burukmu yang terbentuk karena ada sesuatu yang belum terselesaikan dalam dirimu sendiri. Bisa jadi karena trauma dan kamu selalu bersembunyi untuk bertahan. Atau karena luka masa lalu dan kamu belum sanggup memaafkannya. Sadar tidak sadar, luka atau trauma itu akan menjadi sosok inner child yang bersembunyi dalam diri kamu, di bawah alam sadar yang memengaruhi kamu ketika merespon sebuah masalah, membuat keputusan atau bahkan ketika berhadapan dengan orang lain.  Namun, semakin kamu membenci luka itu, semakin kamu bersembunyi dari trauma itu, jiwamu semakin tidak berk...

My social media

  Instagram : @Malikamay_ Spotify : CheonsaWorld https://open.spotify.com/show/1oE6ICbDMXCSAwpSNcKtca Podcast aku di stitcher : https://partners.stitcher.com/show/688568/stats Youtube : Malikamay  https://youtube.com/channel/UCmRYokSVy4Uy5LTIBm5ZTDQ Blog :  Wattpad : @akucheonsaa Dan kamu bisa cerita ke aku di sini, terserah cerita apa aja.  https://forms.gle/EtDCH6ZvCXEZifiu9  atau kirim ke email ya Email : malikazahiraputri@gmail.com

Tertarik Pada si Melankolis part 5

Putri's POV Aku udah lumayan lama deket sama Putra. Beberapa minggu lalu dia ngajak aku ke hubungan yang lebih serius, jadian maksudnya. 2 bulan mungkin cukup lama buat pdkt, banyak sisi menyenangkan yang Putra tunjukkin ke aku. Humoris iya, open minded iya, dewasa iya, enak diajak ngobrol iya, seru iya, bisa diandalkan iya, udah gitu mandiri juga iya. Seolah, Putra adalah seseorang yang aku cari-cari selama ini. Gimana cara dia ngetreat aku, jelas beda sama orang-orang sebelumnya. Yaa bisa dibilang cara pdkt Putra lumayan unik. Aku jelas suka hal yang baru, jujur aja 2 bulan ini dia berhasil bikin aku nyaman dengan semua aspek dalam dirinya. Termasuk cara dia menghadapi emosi sendiri. Dia pernah bilang, "aku pengen serius sama hubungan ini, kamu sepadan sama aku Pu. Ternyata kamu orangnya dewasa, padahal muka kamu baby face banget. Kamu itu orang yang aku cari, aku berharap punya istri yang bisa momong, yang sikapnya dewasa, yang enak diajak ngobrol, yang kuat hatinya, yang g...