Langsung ke konten utama

Gwaenchana

Inner Child.




Namanya juga manusia, bukan hanya dilahirkan sebagai pemilik raga yang paling sempurna namun juga memiliki jiwa yang akan bertumbuh. Bukan hal yang mesti disalahkan, kalau kamu terlahir sebagai orang yang tidak mampu melakukan semuanya sendirian. Karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. 

Tapi pernahkah kamu merasa ada sesuatu yang belum selesai sembuh di masa kecil? Mungkin ada satu sifat burukmu yang terbentuk karena ada sesuatu yang belum terselesaikan dalam dirimu sendiri. Bisa jadi karena trauma dan kamu selalu bersembunyi untuk bertahan. Atau karena luka masa lalu dan kamu belum sanggup memaafkannya. Sadar tidak sadar, luka atau trauma itu akan menjadi sosok inner child yang bersembunyi dalam diri kamu, di bawah alam sadar yang memengaruhi kamu ketika merespon sebuah masalah, membuat keputusan atau bahkan ketika berhadapan dengan orang lain. 

Namun, semakin kamu membenci luka itu, semakin kamu bersembunyi dari trauma itu, jiwamu semakin tidak berkembang. Kita memang akan menua, namun tidak semuanya bisa menjadi dewasa. Aku pernah mendengar kutipan dari drama It's Okay To Not Be Okay, bahwa "Ingatlah dan hadapi. Jika tak dihadapi, kamu hanya selalu menjadi anak kecil dengan jiwa yang tak bertumbuh." Kalau kamu pun memiliki sosok ini, jangan khawatir, kamu bisa sembuh perlahan-lahan. 

Aku punya sebuah kisah, tentang dia yang harus menerima kenyataan bahwa kehadirannya tidak diinginkan. Tentang seorang anak yang selalu menjadi pelampiasan bagi amarah kedua orangtuanya yang ternyata masih belum bisa selesai dengan diri mereka sendiri. 

Apa kamu tau, perbedaan dari kehangatan dan rasa lapar? Rasa lapar yang membuatmu bertahan hidup tapi kehangatan yang membuatmu bahagia dan ingin hidup. Kalau kamu ingin tau lebih banyak, aku punya satu cerita tentang seorang manusia kesepian yang haus kehangatan. Dia adalah Syela dengan Inner Childnya, yang disegani banyak orang namun tak pernah terlihat berharga di tempat yang biasa kita sebut 'rumah'.

...

23 tahun yang lalu, seorang ibu melahirkan putrinya di rumah sakit besar terkemuka di kota Seoul. Putrinya sangat cantik dan berkulit putih dengan pipi yang berwarna kemerahan. Ditengah usahanya untuk tetap bertahan setelah berjuang melawan maut, ia menatap ke segala arah, mencari suaminya yang tak pernah menampakkan wajah selama ia berada di rumah sakit ini. Mereka memang tidak saling mencintai. Anak itu pun hadir demi mendapat sebuah jabatan dari seorang Pimpinan perusahaan milik sang ayah yang kini akan beralih pada suaminya. Miris, sebenarnya ia juga tidak siap menjadi ibu. Ditatapnya wajah sang putri, meski ia enggan, tapi ia tak bisa mengelak sebuah desiran hangat itu. Ikatan antara ibu dan anak. 

Wanita itu menamai anaknya, Kim Syela.

Waktu terus berlalu. Anak itu tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik dan pintar. Tingkahnya sangat menggemaskan dan matanya dapat membuat luluh hati orang yang menatapnya. Tapi, ia dibesarkan dengan cara yang berbeda. Dalam sebuah keluarga yang hanya mampu memenuhi kebutuhan materinya, tanpa memberinya kasih dan sayang. Setiap hari ia hanya menyaksikan wajah masam kedua orangtuanya. Pertengkaran dan caci maki adalah untuknya bertumbuh. Keluarganya hancur karena orangtuanya berlomba-lomba untuk balas dendam, melalui perselingkuhan yang sayangnya membuat Syela harus menjadi korban. Didikan keras ayahnya dan pengabaian yang ia dapat dari ibunya, membentuk dirinya menjadi gadis pembangkang, culas dan tempramental. Meski begitu, fisiknya tetap bertumbuh meski harus mengalami hal yang tak selayaknya ia terima di usia sebelia itu. 

Ia adalah seorang pengacara, yang tanpa ia akui pada siapapun bahwa ia memilih karir itu untuk membahagiakan ibunya yang juga seorang pengacara. Berkat usaha keras dan sikap keras kepalanya, ia berhasil sukses dan hidup mandiri. Semuanya terlihat sempurna, hanya cinta yang tak ia punya. Pertanyaan tentang, 'kapan ia bahagia?' sudah bosan ia rapalkan setiap hari. Terbiasa hidup sendiri, tanpa memikirkan perasaan orang lain membuatnya tak pernah menampilkan ekspresi normal pada manusia lain. Ia selalu diam, membiarkan dirinya larut dalam perasaan 'tidak baik-baik saja'. Meski terbiasa hidup sendiri, diam-diam ia selalu berharap ada seseorang yang mau mengulurkan tangan padanya, mengajaknya untuk keluar dari balik kotak masa lalu yang menjebak jiwanya hingga tumbuh tak sempurna. 

Sampai suatu hari, seorang itu datang dan memaksa masuk melalui pintu yang sudah ia tutup rapat selama ini. Anehnya seseorang itu ternyata bukanlah pria dengan pribadi hangat seperti matahari. Pria itu lebih seperti payung yang membantunya berteduh meskipun sekujur tubuhnya sudah basah kuyup oleh hujan. Berulang kali Syela menyuruhnya pergi, karena pria itu hanya melakukan hal yang sia-sia. Namun pria itu tetap berdiri kokoh di dekatnya, sesekali menurunkan payung agar hujan membasahi mereka bersama. Setiap kali ia mendorong pria itu menjauh, hasilnya mereka malah selangkah lebih dekat. 

Syela benar-benar tak mengerti, kenapa pria itu berniat mendekat dan bertahan padahal tak ada yang ia berikan selain perlakuan buruk dan penolakan. Pria itu menjangkau Syela dengan caranya sendiri. Syela bukan tak tahu, kalau pria itu juga ternyata egois. Namun Syela bisa lebih egois. Pertanyaan tentang, 'kenapa pria itu mencari seseorang yang lebih egois daripada dirinya sendiri?' membuatnya berpikir keras. 

Jadi, apa yang pria itu lihat dari diri seorang Syela? Dia hanya perempuan lemah yang berlindung dalam sikap buruk karena jiwanya tak berkembang. Syela dewasa hanyalah sosok anak kecil yang ingin dicintai, diberikan kasih sayang dan dianggap ada. Syela yang kuat itu hanyalah sosok yang membutuhkan uluran tangan, yang bisa menunjukkan padanya jalan menuju kebahagiaan.  

Karena Syela sudah kehilangan rasa percaya pada orang lain sejak lama. Diperparah karena percaya pada orang yang salah, sewaktu ia mengenal Joshua sebagai cinta pertamanya. Pistanthropobia. Alasan kenapa ia tidak bisa menerima orang lain di hidupnya, karena tidak bisa percaya. Namun pria itu bukan hanya datang dan memberinya payung untuk berteduh, tapi juga mengenalkan Syela untuk sebuah kehangatan yang tak pernah ia dapatkan sedari dulu. Oh ya, namanya Yoongi. Dengan cara yang sederhana, pria itu menunjukkan padanya cara untuk bahagia. Tiap kali Syela berkeras hati menolak agar tak lagi menambah luka, pria itu bertahan dengan caranya yang keras kepala. Syela tahu, sekali ia memberikan pria itu celah, maka semuanya akan berubah. 

"Seperti burung merpati yang selalu tahu kemana ia harus pulang, seperti itu pula aku yang menemukan kau sebagai rumah tempatku berpulang." Ujarnya, pada suatu sore yang gerimis.

Syela kembali berpikir, apakah karena itu dia mau bertahan? Karena aku adalah rumah? 

Rumah? Apa itu?

Meski selalu menolak, dia tidak munafik. Dia ingin mempunyai rumah tempat pulang. Pria itu juga mengajarkannya cara untuk berdamai dengan masa lalu. Karena ia tahu bahwa Syela tidak bisa menerima orang lain sebelum bisa menerima dirinya sendiri. Pria itu juga yang mau mengulurkan tangan untuk membantu Syela keluar dari kotak masa lalu yang mengurung jiwanya. Satu hal yang ia sadari, bahwa mengunjungi masa lalu yang menyakitkan tidak terlalu buruk. Karena dengan begitu, ia bisa berdamai dengan sesuatu yang belum terselesaikan di masa lalu. Perlahan, dia mulai menemukan setapak jalan menuju rumah. Kemarahannya tidak lagi berkobar seperti dulu, meski tidak bisa hilang sepenuhnya. Dia kini sering tersenyum, meskipun merasa aneh. 

Setiap hari, ia selalu mencoba untuk bicara banyak dengan dirinya sendiri. Di depan cermin bulat yang tergantung di dinding kamar, ia bertanya banyak hal. Tersenyum pada sosok di dalam cermin itu sembari mengatakan, "Aku mencintaimu, kamu sangat berharga. Kamu tidak perlu menjadikan perasaan benci sebagai alasan untuk mengubur masa lalu yang menyakitkan. Ayo, kamu harus berdamai dengan luka itu. Kamu pasti bisa menghadapi trauma itu, sekeras apapun Appa memukulmu, dia tetap Appa. Sekejam apapun Eomma mengabaikanmu, dia tetap Eomma. Kau hidup bukan untuk membenci mereka. Kau hidup untuk dirimu sendiri. Maaf karena selalu menyembunyikanmu, maaf karena sudah menyangkal keberadaanmu, maaf karena mengabaikan perasaanmu. Mulai sekarang kamu tidak kesepian, kita pasti bahagia untuk masa depan. Karena semuanya sudah selesai di masa lalu. Terima kasih sudah bertahan selama ini." 

Syela mengira kalau pria itu hanya merangkulnya ketika bahagia saja, merangkul sisi baik dalam dirinya saja. Namun ia salah, pria itu juga merangkul perasaan marah, sedih dan takutnya. Mengajaknya untuk menghadapi trauma itu, mengajarkannya untuk meluapkan rasa marah dan sedih dengan cara yang benar. Pria itu juga yang membuat Syela urung menyerah pada dirinya sendiri pada masa depannya nanti. Karena ternyata pria itu adalah wujud yang selalu dia impikan sedari dulu. Saat pria itu telah menemukan kunci dan ia pun mengizinkan untuk membuka pintunya lebar-lebar, saat itulah datang banyak sekali manusia yang mau menerima kehadirannya. Bahkan memberinya kehangatan dan membuatnya mengerti arti dari sebuah keluarga. Menemukan kemana dia harus pulang. Karena inilah yang dia butuhkan sedari dulu, bukan hanya hidup bersama limpahan materi namun membuat dia merasa kosong. Hampa. 

Perlahan ia pun sembuh. Terlebih saat ia mampu memaafkan kedua orangtuanya, yang telah  menciptakan luka dan kemudian menjelma sebagai sosok anak kecil dengan jiwa tak berkembang itu dalam dirinya. Syela kini tersenyum bahagia. Nyatanya trauma itu bisa sembuh setelah ia hadapi. Meskipun kenangan buruk itu bertahan lama dalam hati, ia tetap menerimanya sebagai bagian untuk membuatnya belajar bertumbuh dewasa. Syela tak lagi menyembunyikan Syela kecil yang terluka dalam jiwanya. 

"Terima kasih, kau membantuku sembuh."

...

Aku yakin kamu yang memiliki sosok ini pun akan sembuh nanti. Sebelum kamu cintai orang lain, cintai dulu diri kamu sendiri. Sebelum kamu membahagiakan orang lain, temukan kebahagiaanmu dulu. Kamu kuat, kamu hebat untuk diri kamu sendiri. Siapapun kamu, meskipun memiliki inner child, kamu adalah orang yang pantas untuk merasa bahagia. Kamu worth it untuk dicintai. Luangkan waktumu untuk memaafkan dirimu sendiri ya. Tengok ke belakang, berdamai pada luka dan hadapi trauma. Seperti yang pria itu lakukan ketika Syela terus menerus dibasahi hujan, memayunginya agar hujan tak lagi menghujam tubuhnya. Karena hujan tak selamanya akan turun kan? Pasti ada terik bahkan musim gugur. 

Oh ya, dan jangan lupakan orang yang berharga di sekelilingmu. Meskipun inner child sembuh karena dirimu yang berusaha, tapi sosok baik di sekeliling kita juga berperan penting. Agar kita bisa berbagi kebahagiaan bersama, berbagi kehangatan dan saling melindungi. Aku ingat satu hal lagi dari drama itu, bahwa orang lemah yang bersatu akan menjadi kuat. Sekali-kali tidak masalah untuk menunjukkan bahwa kamu lemah, kamu juga butuh uluran tangan. Karena itu manusiawi dan kamu butuh manusia lain untuk hidup di bumi. 

  

Komentar

  1. Kerennnnnn bangetttttt🥰🥰

    BalasHapus
  2. Kerenn bngett good job Malika 👍😊

    BalasHapus
  3. Good job malika nasya putri zahira (caca)

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

My social media

  Instagram : @Malikamay_ Spotify : CheonsaWorld https://open.spotify.com/show/1oE6ICbDMXCSAwpSNcKtca Podcast aku di stitcher : https://partners.stitcher.com/show/688568/stats Youtube : Malikamay  https://youtube.com/channel/UCmRYokSVy4Uy5LTIBm5ZTDQ Blog :  Wattpad : @akucheonsaa Dan kamu bisa cerita ke aku di sini, terserah cerita apa aja.  https://forms.gle/EtDCH6ZvCXEZifiu9  atau kirim ke email ya Email : malikazahiraputri@gmail.com

Tertarik Pada si Melankolis part 5

Putri's POV Aku udah lumayan lama deket sama Putra. Beberapa minggu lalu dia ngajak aku ke hubungan yang lebih serius, jadian maksudnya. 2 bulan mungkin cukup lama buat pdkt, banyak sisi menyenangkan yang Putra tunjukkin ke aku. Humoris iya, open minded iya, dewasa iya, enak diajak ngobrol iya, seru iya, bisa diandalkan iya, udah gitu mandiri juga iya. Seolah, Putra adalah seseorang yang aku cari-cari selama ini. Gimana cara dia ngetreat aku, jelas beda sama orang-orang sebelumnya. Yaa bisa dibilang cara pdkt Putra lumayan unik. Aku jelas suka hal yang baru, jujur aja 2 bulan ini dia berhasil bikin aku nyaman dengan semua aspek dalam dirinya. Termasuk cara dia menghadapi emosi sendiri. Dia pernah bilang, "aku pengen serius sama hubungan ini, kamu sepadan sama aku Pu. Ternyata kamu orangnya dewasa, padahal muka kamu baby face banget. Kamu itu orang yang aku cari, aku berharap punya istri yang bisa momong, yang sikapnya dewasa, yang enak diajak ngobrol, yang kuat hatinya, yang g...