Langsung ke konten utama

Altruisme dan Edelweiss



Tahukah kamu, bahwa sebenarnya ada loh kebaikan yang terasa merugikan bagi pelakunya. Loh, kok bisa? Iya.. Karena dia melakuannya dalam porsi yang terlalu berlebihan, sampai-sampai mengorbankan perasaan dan kepentingan dirinya sendiri. Dia memilih terluka karena bersikap terlalu baik pada orang lain. Tidak punya tuas rem untuk bisa berhenti dan sulit untuk mengatakan 'tidak' pada permintaan orang lain. Ini namanya altruisme. 

Menyinggung soal Altruisme, aku punya satu kisah tentang Abony dan Adaire. Tentang perjuangan anak pertama yang terpaksa merelakan semua mimpinya demi bertahan hidup dan menopang kehidupan adiknya yang nggak bisa apa-apa.

...

Kisah ini terjadi pada abad ke pertengahan, dimana pada masa itu terjadilah runtuhnya kekaisaran Romawi Barat. Hiduplah seorang gadis cantik yang bersuara indah. Saat dewasa kelak, gadis itu ingin menjadi seorang penyanyi gereja yang terkenal di seluruh negeri. Namanya Abony. Rambutnya hitam legam dan tubuhnya tidak terlalu gemuk namun juga tidak kurus. Saat ditatap, orang-orang seolah akan terhanyut dalam netra coklat muda miliknya. Seolah menghipnotis mereka untuk menelisik lebih jauh kedalaman hatinya. Dia anak yang periang namun juga dewasa. Orang lain akan merasa senang tiap kali mendengar suaranya, bahkan ketika ia hanya bicara sepatah kata. Seperti ada energi positif yang membuat orang lain betah berada di dekatnya. 

Suatu hari ia memiliki adik perempuan, rambutnya pirang alami dengan wajah yang tak kalah cantik dari Abony. Namanya Adaire. Suasana haru bahagia melingkupi rumah kecilnya. Ia senang karena memiliki teman bermain yang bisa mengusir kebosanannya di rumah. Hari-hari berganti, kebahagiaannya tak berlangsung lama karena kedua orang tuanya meninggal ketika sekumpulan prajurit kerajaan besar menyerang kota kecil tempatnya tinggal. Banyak korban berjatuhan, bahkan mereka tak segan membantai para perempuan, orangtua dan anak kecil. 

Takdir memihak pada Abony dan Adaire, karena prajurit beringas itu tak sempat melihat mereka yang bergegas kabur ke dalam hutan. Abony remaja harus menjaga nyawanya tetap selamat untuk melindungi Adaire yang masih berusia 8 bulan. Saat merasa terpukul karena menyaksikan orangtuanya dibunuh, Abony harus berusaha kuat untuk bertahan hidup. Kakinya yang mungil pun dipenuhi luka karena harus melalui medan terjal. Dia tidak bisa berhenti kalau tak mau keberadaannya tercium oleh prajurit itu. Kakinya selalu menjejak, tangannya dipaksa selalu kuat untuk menggendong Adaire, tubuhnya harus tangguh untuk terus mencari tempat berlindung, matanya harus waspada untuk menghindari musuh, dan isi kepalanya harus tetap berpikir jernih meski di dalam sana selalu bertengkar untuk mencerna kejadian yang tak seharusnya ia rasakan di umur yang masih belia. 

Abony tersentak saat Adaire merengek karena lapar, mungkin sebentar lagi akan segera menjadi tangisan besar dan itu akan membahayakan mereka. Abony yang kelelahan pun memaksakan diri untuk berlari, menuju sebuah sumur tua yang terlihat bersembunyi di balik semak-semak. Saat kakinya memacu cepat dan tangisan Adaire masih terdengar, ia merasakan ada seseorang yang mengikutinya. Bunyi kayu patah yang dipijak orang-orang seolah membuat debaran jantungnya terasa menggedor dada. Nafasnya sudah tak beraturan karena takut dan lelah, namun ia masih memiliki keinginan besar untuk tetap hidup. 

"Hei! Siapapun disana, berhenti!" 

Anak panah melesat mendahuluinya dan menancap kuat di sebuah batang pohon tua. Membuatnya terjatuh karena terkejut dan tak tahan lagi harus memaksakan kakinya yang lemas. Abony berusaha keras agar Adaire tak terluka sedikitpun, sebagai gantinya, pergelangan tangannya patah karena menahan tubuh mereka agar tak membentur batu besar. Adaire menangis keras dan Abony terpaksa harus membekap mulutnya agar keberadaan mereka tak terdeteksi. 

"Daire, tolong, jangan menangis. Kita bisa mati." Bisiknya nyaris tanpa suara. Matanya terpejam. Ia beringsut dan bersembuyi di balik tembok sumur. Suara pria dewasa terdengar lagi, mengancamnya untuk menyerahkan diri. Namun tangis Adaire tetap terdengar. Terbesit keinginan untuk menjatuhkan Adaire ke dalam sumur agar ia bisa selamat. Kakinya ia paksakan untuk berdiri, matanya menatap tajam ke sekeliling. Ia menghirup napas sebanyak-banyaknya dan memejamkan mata. Tangannya terjulur ke atas lubang sumur, dengan Adaire di sana. Tinggal ia lepaskan dan Adaire akan jatuh ke dalam sumur kemudian ia selamat. 

"Maaf Mama. Aku harus membunuh Daire." Bisiknya pelan. Keringat membanjiri sekujur tubuhnya. Tangannya bergetar hebat ketika akan melepas tubuh mungil bayi itu jatuh. Namun, otaknya kembali memutar ingatan tentang ucapan Mamanya 8 bulan lalu, hari saat Adaire lahir ke dunia. 

"Dia bukan sekedar anak bayi. Dia adikmu. Kau dan dia memiliki ikatan darah yang sangat kuat. Kau dilahirkan untuk melengkapi kekurangannya, dan dia dilahirkan untuk melengkapi kebahagiaan kakaknya. Saat Mama tidak bisa berperan dalam tumbuh kembangnya, kau yang harus melakukan itu. Karena kau adalah kakaknya. Mengerti?"

Kelopak matanya terbuka. Tangannya yang patah tak kuat untuk menahan tubuh Adaire hingga tak sengaja melepaskannya. Ia hampir berteriak namun segera menggigit lidahnya sendiri. Ia menahan tangisan keras karena tak sengaja membunuh adiknya sendiri. Dengan tubuh yang bergetar hebat, Abony melongok ke dalam sumur karena tak terdengar apapun yang jatuh ke dalam air dan suara tangis adiknya masih terdengar. Ia terkesiap melihat pakaian Adaire tersangkut di sebuah batu runcing yang menjorok keluar. Secepat mungkin ia menarik adiknya yang sudah tak lagi menangis untuk keluar dari sana. 

"Daire maafkan Kakak. Maaf. Maaf." Abony memeluk adiknya erat. Entah ada keajaiban apa, adiknya itu pun berhenti menangis. Mereka berhasil sembunyi dan membuat prajurit yang mengejarnya bingung sehingga tak menemukan keberadaan mereka. Sambil menahan tangannya yang sakit, ia pergi dari sana dan berhasil selamat. Ia berjanji akan hidup untuk Adaire dan melaksanakan permintaan Mamanya.

Tahun demi tahun silih berganti. Abony tak lagi bermimpi untuk menjadi penyanyi. Hidupnya terlalu keras untuk bermimpi. Semua pekerjaan ia lakukan agar bisa menghidupi Adaire yang tumbuh menjadi remaja yang cantik dengan rambut pirang seperti Rapunzel.  Abony hidup bukan hanya mencari materi untuk menghidupi Adaire, namun juga memberinya kasih sayang, perlindungan, dan berusaha menjadi contoh baik untuk mendidik karakter Adaire yang hidup tanpa orangtua. Beban berat itu ia pikul sendiri. Abony harus menjadi ayah, ibu, kakak, guru dan teman untuk Adaire. Abony adalah satu-satunya harapan untuk Adaire. Keadaan memaksanya untuk kuat, disaat ia bahkan tak bisa menerima realita bahwa mereka harus hidup tanpa orangtua. Berusaha berdiri tegak, sendirian, demi melindungi Adaire di balik punggung rapuhnya. 

Abony adalah lawan dari egoisme. Karena dia memiliki naluri untuk selalu mengutamakan kepentingan Adaire. Karena dia memiliki sikap untuk selalu memperhatikan kebahagiaan Adaire. Ia rela kehilangan masa kecil karena dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya. Kebebasannya ia relakan untuk Adaire. Keinginannya untuk belajar, ia relakan untuk Adaire karena ia tidak memiliki waktu untuk itu. 

Suatu hari Abony melihat sekumpulan gadis yang sedang mengerumuni seorang pujangga tampan di balai desa. Hatinya senang melihat pujangga tampan itu dan hendak melangkah menghampirinya. Namun tangan kecil itu membuatnya urung. Ia menoleh pada sang adik yang menatapnya sendu. "Kakak tidak boleh pergi kemana-mana. Di sini saja, dengan Adaire ya, Kak." Tak bisa menolak, ia pun mengangguk dan urung pergi. 

Tiap kali hanya sedikit makanan yang mampu ia sediakan, ia akan merelakannya untuk Adaire. Membiarkan perutnya kosong hanya demi melihat Adaire senang karena kenyang. "Kakak tidak makan?" Adaire urung menyuapkan makanan, Abony tersenyum seolah ia adalah orang paling senang sedunia. "Aku sudah kenyang, ayo cepat makan." Dan Adaire tidak pernah tahu kalau ucapan kakaknya hanyalah sebuah kebohongan. 

"Kakak, boleh aku meminta kuda?" Suatu pagi Adaire meminta. 

Abony yang sedang mencuci baju di sungai pun hanya tersenyum dan mengangguk. Eskpresi Adaire begitu senang melihat permintaannya disetujui. "Benarkah?! Kapan Kakak akan membelikanku kuda? Aku mau anak kuda berwarna putih dan rambutnya panjang." Adaire bercita-cita. Tidak sadar kalau Abony berpikir keras dibalik senyum dan anggukan kepalanya. 

Berhari-hari Abony berpikir bagaimana caranya mendapatkan kuda, karena Adaire remaja tak ingin bicara padanya sebelum keinginannya terpenuhi. Abony tidak bisa melihat adiknya murung seperti itu. Ia lebih senang melihat adiknya bahagia, meski harus kebahagiaannya sendiri yang dikorbankan. Lelah dengan semua perasaan itu, ia pun berjalan-jalan sendirian di malam hari. Ketika manusia lain sudah tertidur dan purnama bersinar terang menerangi jalan setapak yang sepi, terlintas sebuah pemikiran untuk mencuri kuda di istal mewah milik seorang bangsawan di kota. 

Ia berhasil mencuri seekor kuda putih betina karena tak menemukan anak kuda yang Adaire mau. Dengan perasaan senang ia berjalan menuntun kudanya pulang ke rumah. Namun belum terlalu jauh, seorang penjaga istana mengenali kuda kerajaan dan meneriakinya. Abony bersusah payah menaiki punggung kuda dan memacunya pergi kemanapun untuk bisa kabur. Terjadi aksi kejar-kejaran dengan 3 prajurit istana. Namun malang, Abony berhasil ditangkap dan dipenjarakan di benteng kerajaan yang dikenal sebagai tempat terkutuk karena bangunan itu hanya berisi penderitaan. Ia disiksa bahkan direnggut kesuciannya di sana. Hanya karena ingin membahagiakan Adaire, dirinya harus mengalami penyiksaan yang tiada henti. 

Adaire diberitahu kalau Kakaknya ditangkap karena mencuri. Hidupnya yang terbiasa dilayani pun menjadi terlantar. Ia tidak bisa mengurus dirinya sendiri karena kakaknya selalu mengurus dirinya dengan baik. Ia tak bisa melakukan apapun karena apapun untuknya selalu dilakukan oleh Abony. Dalam hati ia kecewa karena Abony membiarkannya hidup terlantar sendirian. Ia marah karena selalu menjadi bahan perbincangan tetangga karena Abony bukanlah orang baik yang jujur seperti kelihatannya. Ia menyesal telah menaruh rasa percaya begitu besar pada sang Kakak. 

Ia seolah lupa kalau selama ini Abony lah yang menghidupinya. Seolah satu kesalahan Abony membuat semua kebaikannya terhapus. Ia tidak tahu, bahwa Kakaknya tertekan oleh tingkahnya. Ia tidak sadar kalau kekonyolannya yang asal meminta tanpa memperdulikan keadaan, justru membuat hidup Abony dipertaruhkan. 5 tahun berlalu. Orang-orang melupakan Abony. Bahkan sebagian menyebut bahwa kakaknya itu telah tiada karena dibunuh prajurit. Mau tak mau Adaire hidup seorang diri, meskipun kecewa, ia tetap merindukan Kakaknya. Karena Abony bukan sekedar Kakak, Abony adalah segalanya. Kesedihan terasa menyiksa hidupnya dan kesakitan terus menyiksa hidup Abony. 

Adaire pun telah tumbuh dewasa dan mulai memasuki masa season. Meski bukanlah berasal dari kalangan bangsawan, tak sedikit pria yang terpikat pada wajah cantiknya. Namun dibalik semua itu, kecantikannya pula yang membuat keselamatannya terancam. Karena tak memilik perlindungan, banyak pria mencoba mencemarinya dan banyak wanita yang tak segan melukainya karena iri. 

Tiba-tiba, takdir baik menghampiri. Seorang Pangeran Mahkota jatuh hati padanya. Adaire pun menyukai Pangeran itu pada pandangan pertama. Mereka menikah dan Adaire hidup sejahtera di Istana. Di kehidupannya yang mewah, ia masih tidak tahu bahwa Kakaknya ternyata masih hidup di dunia. Meski bahagia dengan semua kekayaan itu, ia tetap menginginkan Abony untuk selalu di sisinya. Ia bahkan menamai putrinya dengan nama yang sama seperti sang kakak. Bayi itu pun memiliki rambut hitam legam seperti Abony, terlihat bak pinang dibelah dua. 

Lama-lama, seiring berjalannya waktu, dia mulai lupa. Tidak lagi teringat pada sosok Kakak yang dulu pernah hadir di hidupnya sampai remaja. Berbeda dengan Adaire yang kini menjadi seorang Ratu, Abony menghembuskan napas terakhirnya setelah di siksa saat menjadi budak di rumah bangsawan rendahan di kota lain. Bahkan sebelum menutup mata, ia selalu mengingat Adaire. Ia bahagia meskipun harus berakhir menyedihkan seperti ini. Karena ia tahu adiknya sudah hidup bahagia di Istana. Nama Adaire pun tersohor di seluruh penjuru negeri. Ia bangga karena sudah membesarkan seorang Ratu, meski akhir kisahnya adalah sebagai seorang babu. Karena demi kebahagiaan Adaire, kebahagiaan Abony bukanlah apa-apa. 

"Because I have a sister, i will always have a friend."

Hidupnya berakhir tanpa menyisakan nama. Seluruh kisahnya ikut terkubur bersama dengan jasadnya yang dibuang ke lautan. Tidak ada satu orang pun yang akan mengenang apalagi datang berkunjung ke pusaranya. Dia bahkan tidak lagi diingat oleh seorang adik yang kini hidup bahagia di tempat terbaik. Seluruh riwayat tentangnya menghilang, tidak akan lagi bisa ditemukan. Abony yang malang.

The End

Sebesar apapun keinginan kita untuk mementingkan kepentingan orang lain, tetap saja ada dirimu sendiri yang harus diutamakan. Menolong akan terasa indah ketika kita bahagia dan sanggup melakukannya sesuai naluri hidup, serta orang yang kita tolong pun menerimanya dengan senang hati. Berbuat baik pada orang lain memang penting, tapi berbuat baik pada dirimu sendiri juga tidak kalah penting. Pastikan kamu memiliki rem saat melakukan tindakan altruisme yaa..

Coba kamu tanya lagi ke diri kamu sendiri, nyamankah kamu ketika sedang menolong orang lain? Kamu melakukan itu bukan karena merasa tidak enak kan? Karena menjadi people pleaser itu tidak enak, kalau aku boleh berpendapat. Menolong itu seharusnya memberi rasa nyaman dan bahagia untukmu. Tapi kalau ternyata malah membuatmu tidak berdaya, bahkan sampai mempengaruhi kesehatan mentalmu, lebih baik hentikan dan tolonglah diri kamu sendiri. Seperti kataku tadi, baiklah terhadap diri kamu sendiri. Jangan sampai kamu berusaha baik untuk orang lain dengan menjadi jahat untuk diri sendiri. Kamu pasti bisa menolong dengan bijak. 

Oh ya, ngomong-ngomong tentang Abony si anak pertama, mungkin kamu sudah tidak asing, kalau anak pertama itu memang harus lebih banyak berjuang karena ia harapan keluarganya. Menurutku anak pertama itu seperti bunga Edelweiss. Kamu tahu? Bunga Edelweiss itu selalu dihargai, dimanapun bunga itu tumbuh. Meski tak terlihat begitu kentara, warna bunga itu memiliki banyak makna simbolis termasuk diantaranya adalah kekuatan. Dalam bahasa Jerman, Edelweiss atinya putih dan mulia. 

Edelweiss kuat seperti bahu seorang anak pertama. Kalau kamu bertanya, kenapa bisa Abony rela melakukan semuanya demi Adaire? Mungkin Abony akan menjawab dengan singkat, karena Adaire adalah adiknya dan ia mencintai adiknya. Mungkin terlihat tidak adil karena Adaire akan berakhir bahagia sedangkan Abony akan berakhir dalam penderitaan. Namun, bagi seorang anak pertama yang memiliki sifat altruisme seperti Abony, malah akan membuatnya bahagia. Karena Abony terbiasa mendahulukan kepentingan Adaire. Karena Abony terbiasa membahagiakan Adaire. Abony tidak tahu cara untuk berhenti. Ia tahu, bahwa dirinya sendiri juga butuh untuk dibahagiakan. Tapi karena sudah terbiasa membahagiakan Adaire, ia lupa bagaimana cara membahagiakan dirinya sendiri. 

Untuk anak pertama, baca ini biar kamu tahu kalau kamu memang pantas untuk dijadikan harapan. Kamu tidak memilih untuk dilahirkan sebagai anak pertama, tapi Tuhan yang memilih kamu karena Dia Maha Tahu bahwa kamu sanggup. Menjadi yang pertama memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa kan?

Anak pertama pasti paling paham jatuh bangunnya orang tua. Meski terkadang masih memiliki jiwa kekanak-kanakan, tapi kamu akan mencoba bersikap tenang dan menjadi dewasa saat dihadapkan dengan masalah yang cuma bisa diterima oleh kamu, oleh keadaan yang belum bisa dimengerti oleh adik kamu. Karena memang sudah dituntut untuk seperti itu. Tidak apa-apa kalau kita lelah, beristirahatlah sejenak. Kadang karena merasa paling tua, kita ingin mengatur orang seenaknya, padahal kita justru harus berkompromi dan mengalah. Aku yakin anak pertama sudah mengerti bagaimana rasanya mengalah. 

Kamu harus bangga dilahirkan sebagai anak pertama.+ Karena usiamu yang paling tua, biasanya kedua orangtua akan menganggap kamu yang paling memahami dan bisa diajak berbagi. Kita, anak pertama adalah yang paling dinanti kelahirannya. Orangtua mencurahkan kasih sayang pertama kali pada kita, sekaligus menjadikan kita sebagai pusat pengharapan. Bahumu di desain kokoh untuk dapat membahagiakan orangtuamu sebagaimana seharusnya. 

Jadilah Abony versi kamu sendiri, yang selalu baik namun selalu mengerti porsi. Aku yakin kamu mengerti. Jadilah Abony yang meraih feedback positif dengan menolong sesuai naluri. Jangan lupa untuk berbuat baik pada dirimu sendiri. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gwaenchana

Inner Child. Namanya juga manusia, bukan hanya dilahirkan sebagai pemilik raga yang paling sempurna namun juga memiliki jiwa yang akan bertumbuh. Bukan hal yang mesti disalahkan, kalau kamu terlahir sebagai orang yang tidak mampu melakukan semuanya sendirian. Karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial.  Tapi pernahkah kamu merasa ada sesuatu yang belum selesai sembuh di masa kecil? Mungkin ada satu sifat burukmu yang terbentuk karena ada sesuatu yang belum terselesaikan dalam dirimu sendiri. Bisa jadi karena trauma dan kamu selalu bersembunyi untuk bertahan. Atau karena luka masa lalu dan kamu belum sanggup memaafkannya. Sadar tidak sadar, luka atau trauma itu akan menjadi sosok inner child yang bersembunyi dalam diri kamu, di bawah alam sadar yang memengaruhi kamu ketika merespon sebuah masalah, membuat keputusan atau bahkan ketika berhadapan dengan orang lain.  Namun, semakin kamu membenci luka itu, semakin kamu bersembunyi dari trauma itu, jiwamu semakin tidak berk...

My social media

  Instagram : @Malikamay_ Spotify : CheonsaWorld https://open.spotify.com/show/1oE6ICbDMXCSAwpSNcKtca Podcast aku di stitcher : https://partners.stitcher.com/show/688568/stats Youtube : Malikamay  https://youtube.com/channel/UCmRYokSVy4Uy5LTIBm5ZTDQ Blog :  Wattpad : @akucheonsaa Dan kamu bisa cerita ke aku di sini, terserah cerita apa aja.  https://forms.gle/EtDCH6ZvCXEZifiu9  atau kirim ke email ya Email : malikazahiraputri@gmail.com

Tertarik Pada si Melankolis part 5

Putri's POV Aku udah lumayan lama deket sama Putra. Beberapa minggu lalu dia ngajak aku ke hubungan yang lebih serius, jadian maksudnya. 2 bulan mungkin cukup lama buat pdkt, banyak sisi menyenangkan yang Putra tunjukkin ke aku. Humoris iya, open minded iya, dewasa iya, enak diajak ngobrol iya, seru iya, bisa diandalkan iya, udah gitu mandiri juga iya. Seolah, Putra adalah seseorang yang aku cari-cari selama ini. Gimana cara dia ngetreat aku, jelas beda sama orang-orang sebelumnya. Yaa bisa dibilang cara pdkt Putra lumayan unik. Aku jelas suka hal yang baru, jujur aja 2 bulan ini dia berhasil bikin aku nyaman dengan semua aspek dalam dirinya. Termasuk cara dia menghadapi emosi sendiri. Dia pernah bilang, "aku pengen serius sama hubungan ini, kamu sepadan sama aku Pu. Ternyata kamu orangnya dewasa, padahal muka kamu baby face banget. Kamu itu orang yang aku cari, aku berharap punya istri yang bisa momong, yang sikapnya dewasa, yang enak diajak ngobrol, yang kuat hatinya, yang g...